Minggu, 17 Juli 2011

Sekolah Daur Ulang


Setiap kali saya berada dalam pengembaraan keliling Pulau Jawa, saat kebosanan mengendarai mobil melanda, saya selalu membayangkan apa yang baru saja dilewati.

Saat itu di wilayah Temanggung, dalam perjalanan dari arah Semarang menuju Jogja. Saya membayangkan apa yang baru saja saya lihat di Semarang. Seperti biasanya, kunjungan ke Semarang selalu menjadi kunjungan yang “melelahkan” mental dan spiritual karena saya selalu menyempatkan diri menjelajahi “lautan barang bekas” yang selalu menuntut energy ekstra keras untuk menjadikannya sesuatu. Dan itu selalu menjadi hantu, menjadi hantu, menjadi hantu dan menjadi hantu yang selalu menghantui setiap perjalanan selepas dari Kota Semarang.

Tentu saja, dihantui oleh barang-barang bekas yang eksotik jauh lebih baik daripada dihantui oleh hantu sungguhan meskipun hantunya juga eksotik. Siapa yang peduli dengan hantu cantik nan eksotik? Tapi saya sungguh peduli dengan barang-barang bekas nan eksotik itu.

Sudah sejak lama saya mengumpulkan dan menikmati eksotika barang-barang bekas yang barangkali pada eranya merupakan sebuah penemuan revolusioner. Sudah sejak lama saya larut dalam belantara barang-barang bekas di seantero kota dan pelosok-pelosok Jawa. Sudah sejak lama saya berburu dan memangsa barang-barang bekas di Kudus, Blora, Bojonegoro, hingga Situbondo. Sudah lama saya menjadi Arsitek “Pemulung” yang membangun mimpi dari dasar kubangan barang-barang sisa.

Sudah lama saya asik sendiri, jalan sendiri dan benar-benar sendiri sehingga kadang merindukan seseorang untuk berbagi. Sudah lama saya ingin mengajak semua orang untuk mengerti dan membagi apa yang saya lakukan adalah sebuah realitas yang sama sekali bukan mimpi. Namun baru kali ini saya memikirkan yang satu ini : Sekolah Daur Ulang.

Sekolah yang akan membuat saya tidak merasa sendiri memikirkan apa yang ada di Semarang, Blora ataupun Situbondo. Sekolah yang akan memberikan kesempatan pada generasi muda untuk belajar dan mengetahui mengapa semua harus didaur ulang. Sekolah yang memberikan tantangan bagi insan-insan kreatif untuk terus berpikir. Dan sekolah yang akan menjadi ladang pencaharian baru bagi sejumlah orang yang gemar bekerja keras.

Sejenak saya berhenti berpikir. Mengambil langkah untuk menuliskan pesan-pesan yang berteriak-teriak di dalam pikiran dan jadilah tulisan ini. Dan sekarang saya akan berpikir bagaimana cara merealisasikannya.

Namun sebelumnya saya butuh waktu, dan secangkir kopi.