Rabu, 29 Oktober 2008

Aku Pengusaha Arsitektur Kaki Lima

Aku tak ada bedanya dengan penjual gorengan atau pedagang kerak telor : sama-sama pedagang kaki lima. Hanya saja (mungkin) daganganku terdengar lebih keren : Arsitektur!

Meskipun keren, tetap saja tak ada bank yang mau percaya memberikan kredit untuk menyambung nafas usaha kaki lima seperti aku. Mengapa bank tidak percaya pada pengusaha kecil dengan sedikit jaminan, malah percaya konglomerat hitam yang bahkan kerugiannya pun ditanggung pemerintah? Seberapa banyak pedagang kaki lima yang ngemplang dibandingkan pengusaha yang dekat dengan kekuasaan?

Sama seperti mereka, akupun bekerja di jalanan. Bergerak kesana-kemari ke arah kemungkinan-kemungkinan. Pada suatu hari aku menyebut diriku pengusaha jalanan karena menghabiskan setengah waktuku di tempat yang tidak tetap.

Aku menyukai aroma tanah di kedalaman tambang bebatuan sama seperti aku menyukai aroma tanah liat di tungku pembakaran. Kunikmati tajamnya irisan alang-alang yang memberi sayatan kecil pada kulitku sama seperti kunikmati deru mesin pemotong batu yang memekakkan pendengaranku. Kuanggap perjalananku mengelilingi Lombok dan menjelajah kedalaman Jawa sebagai liburan yang telah lama kutunggu seperti halnya perjalanan ke luar negeri yang kuanggap kursus singkat untuk mengenal kebudayaan yang lain. Kujadikan keseharianku berlari menyusuri pematang sawah, menyebrangi sungai dan berkunjung ke ladang sebagai inisiasi sebelum memutuskan untuk menjadi petani kelak.

Meskipun menghasilkan tidak seberapa, aku puas telah memberi harapan dan menjadi sandaran bagi banyak orang yang senantiasa mendoakan hal-hal yang baik buatku. Meskipun melelahkan, menjadi pengusaha kaki lima menjadi sebuah konsep pembebasan buatku. Bebas mengatur waktu, bebas menentukan arah kreativitasku dan bebas menentukan sikap : membayar pajak ke pemerintah yang korup atau membaginya bersama orang-orang yang jauh lebih membutuhkan.