Dari kelap-kelip cahaya lampu yang semakin lama semakin mendekat aku dapat mengira jika aku akan memasuki sebuah kota yang sangat besar. Malam itu pukul sebelas, hujan membasahi sekujur Bandara Chhatrapati Shivaji. Sebuah bandara internasional yang sangat padat. Aku merasa seperti The Beatles yang melakukan cross the universe mencari Jay Sang Guru Deva saat pertama menginjakkan kakiku di tanah anak benua ini, merinding, terpana, dan sedikit menyembunyikan antusiasme dalam diriku.“Selamat datang di Mumbai”, kata seseorang di dalam ponselku. “Terma kasih, saya sangat terkesan”, jawabku. Aku memang terkesan dengan bandara dan kota ini. Mengapa bisa ada begitu banyak manusia disini? Apakah aku berada di waktu yang sama dengan di Kuala Lumpur, kota yang baru saja kutinggalkan? Mengapa aku merasa seperti baru saja melakukan perjalanan waktu mundur selama 30 tahun?
Sepintas bandara ini mirip dengan Stasiun Kota di Jakarta. Suasananya, hiruk pikuknya, kebersihannya, dan usia bangunannya. Aku terkesima dengan pemandangan di hadapanku. Pemandangan yang persis sama dengan apa yang hanya ada di film-film India. Mobil-mobil itu, bajaj itu, pakaian polisi-polisi itu, keramaian itu, parkir yang padat dan becek itu, ternyata itu semua nyata. Aku masih terkesima ketika sekonyong-konyong sampai di sebuah apartemen yang untuk ukuran Jakarta termasuk kumuh. Tapi semua tak seperti yang kubayangkan ketika aku bergerak memasukinya. Nanti akan kuceritakan seperti apa di dalam “apartemen kumuh” itu. Aku tidur dalam kelelahan perjalanan yang sesungguhnya sangat kunikmati.
Pagi hari kota jauh lebih padat. Hujan yang semakin lebat tak cukup menahan hasratku untuk segera pergi. Jalanan macet dan banjir. Aku menuju ke luar kota. Sebuah perjalanan yang sangat panjang, karena sudah kukatakan, kota ini sangat besar. Sebuah kota yang sangat besar dan sederhana. Hingga hujan berhenti dan entah berapa halte yang sudah kulewati. Kulihat orang-orang yang berjalan kaki di sepanjang jalan. Mereka seperti berjalan menuju tempat yang sangat jauh. Mau kemana mereka? Mengapa mereka berjalan kaki? Disepanjang perjalanan terus kuperhatikan orang-orang yang berjalan kaki itu. Satu demi satu kubaca roman wajah orang-orang itu. Wajah-wajah yang memendam penderitaan, harga diri dan pengharapan, hingga akhirnya aku menemukan jawaban kemana orang-orang itu melangkah. Mereka sedang bergerak menapaki jejak-jejak kebersahajaan yang ditinggalkan Gandhi setengah abad yang lalu, dan menuju kemakmuran yang dicita-citakan para pendiri bangsa itu dengan kemandirian dan kemampuan mereka sendiri.
Baru kusadari jika mobil-mobil itu, jalanan itu, pakaian polisi-polisi itu, bangunan itu, orang-orang dan waktu yang kupikir tak sama itu adalah penanda-penanda bahwa apa yang diperjuangkan Gandhi dulu ternyata masih ada.
