Semakin aku melihat semua yang mungkin untuk dilakukan, semakin aku ingin untuk menjadi petani suatu saat nanti karena menurutku petani adalah pekerjaan mulia yang sangat menyehatkan, baik fisik maupun mental. Tentu saja aku tidak akan menjadi petani biasa. Makanya aku perlu persiapan dan tidak akan pernah menunda begitu saatnya telah tiba.Aku ingin menggarap lahan yang tandus, mengusahakan air dan membuat danau di tanahku sendiri. Menanam pohon leci di setiap peringatan ulang tahun istri dan anak-anakku, menanam seratus pohon beringin untuk menyediakan sarang dan mengundang burung-burung serta memanfaatkan akar-akarnya untuk menampung air hujan. Sementara itu kusemai ribuan butir biji papaya agar buahnya bisa menjadi makanan burung-burung dan tupai. Kutanam sayur untuk konsumsi sendiri dan kupelihara unggas dan ternak untuk menghidupi diri. Tak lupa kutanam pohon jati untuk investasi anak cucuku seratus tahun lagi. Lalu akan kuundang teman-temanku untuk datang ke gubukku serta menandai setiap kedatangan mereka dengan sebuah pohon buah dan memintanya datang 3 atau 4 tahun kemudian untuk memetik buahnya.
Akan kubuat hutan. Hutan buah-buahan, hutan bambu dan hutan tanaman langka.
Sementara itu aku akan menulis buku untuk tambahan biaya sekolah anak-anakku. Mungkin tak seberapa, tapi aku sangat meyakini jika mereka bisa hidup apa adanya. Pada saat yang sama aku akan memberikan pengetahuan arsitekturku kepada masyarakat tanpa dipungut bayaran. Membantu mereka dengan solusi-solusi arsitektur murah yang mengeksplorasi material setempat dan memberikan pemahaman bahwa arsitektur yang baik adalah ekspresi dari apa yang ada si sekitar kita.
