Minggu, 17 Juli 2011

PRAJURIT NABATI


MENGHUTANKAN BALI UTARA DENGAN POHON NIMBA

Tadinya saya tidak terlampau peduli dengan Pohon Intaran karena setiap kali menemui pohon ini, pastilah saya sedang berada di daerah kering tandus yang tidak saya sukai. Namun siapa yang menyangka pada akhirnya saya memutuskan tinggal di Desa Bengkala yang kering tandus dan penuh Pohon Intaran?

Konflik kepentingan saya dengan Pohon Intaran terjadi sekitar tahun 2009, saat membangun Rumah Daur Ulang untuk Jill Matheson, seorang teman dari Melbourne. Saat itu, site di Pantai Lovina yang tidak terlampau besar juga ditumbuhi beberapa Pohon Intaran yang sudah cukup besar. Nah, “konflik” terjadi saat rumah knock down yang saya buat harus menempati ruang tempat tumbuhnya Pohon Intaran dan sebuah Pohon Kelapa di Belakang. Siapa yang harus mengalah?

Dulu, secara personal saya tidak mencintai pohon itu meskipun rasa sayang selalu ada untuk tumbuhan apapun. Dan saat harus memilih siapa yang harus dikorbankan, Pohon Intaran atau Pohon Kelapa, saya lebih memilih mengorbankan Pak Muji, Kepala Tukang saya. Akhirnya Pohon Kelapa tetap berdiri tegak di area kamar mandi, menembus lantai 2 hingga menembus atapnya, sedangkan pohon Intaran juga tetap tegak dengan beberapa dahan yang dipangkas. Ia berdiri di teras yang menghadap ke pantai dan menembus atap kanopinya. Sementara Pak Muji saya lihat menggerutu karena pekerjaannya bertambah banyak. “Anteng tho, Lik. Everything will gonna be Okay”.

Singkat cerita, Pohon Intaran (Azadirachta indica) atau banyak disebut Pohon Nimba alias Pohon Mimba atau bahasa londonya Neem Tree tidak benar-benar membuat saya penasaran hingga saya membuat status di Facebook yang dikomentari seorang teman bernama Ani Yulinda yang memaparkan secara singkat betapa Pohon Intaran itu banyak sekali kegunaannya.

Aha!

Ini seakan menjadi jawaban dari pertanyaan beberapa tahun yang lalu ketika saya punya mimpi untuk menghijaukan beberapa daerah di Bali Utara yang kering tandus dan tak terurus.

Nimba!

Saya langsung browsing saat itu juga, mengumpulkan data selengkap-lengkapnya tentang manfaat Pohon Nimba, dan menginstruksikan kepada tukang-tukang di rumah untuk memindahkan bayi-bayi Nimba yang bertebaran di sekitar pekarangan rumah di bawah induk-induknya yang untung saja tidak ada yang ditebang saat membangun rumah beberapa waktu lalu. Hasil browsing beberapa menit sungguh mengagetkan, betapa Pohon Nimba seperti Pohon Kelapa yang semua bagiannya bisa dimanfaatkan.

Saya sangat bergairah dan senang, meskipun saat itu juga pikiran saya melompat pada beberapa peristiwa yang saya lihat beberapa bulan terakhir dalam perjalanan dari Desa Tamblang menuju Kota Singaraja. Banyak sekali batang-batang Nimba yang baru saja ditebang. Kasihan. Padahal, jika kita mengetahui lebih awal kita akan bisa melakukan sedikit usaha untuk mengurangi penebangan pohon-pohon itu karena jika masyarakat tahu manfaat sebenarnya, saya pikir tak seorang pun yang akan memutuskan untuk menebang Pohon Nimba karena sekali lagi, semua bagian Nimba bisa dimanfaatkan.

Secara singkat, Daun Nimba bagus untuk pupuk organik dan bahan dasar kosmetik. Tangkainya banyak digunakan untuk menggosok gigi. Batangnya jangan ditanya, bisa untuk kusen, furniture dan ukiran. Kandungan zat aktif di dalamnya juga bermanfaat luar biasa. Namun yang paling “mengganggu” dan membuat saya tidak bisa tidur adalah : Bijinya bisa digunakan untuk Pestisida Alami.

Oh my God. Inikah jawaban dari investigasi Buah Anggur di Desa Banjar yang saya lakukan beberapa bulan yang lalu? Inikah jawaban dari pertanyaan yang mengganggu saya selama bertahun-tahun atas meroketnya bisnis Tengkulak Mangga di desa saya beberapa tahun terakhir?

Kabupaten Buleleng, sebagai daerah penghasil buah-buahan terbesar di Bali telah terjebak dalam ketergantungan pestisida kimia yang akut tanpa ada usaha kongkrit untuk menghentikan ketergantungan itu. Pohon buah-buahan dipaksa menelan “candu” yang membuat pohon-pohon mampu menghasilkan sebanyak-banyaknya untuk para tengkulak buah-buahan yang telah mengijon tanah-tanah rakyat. Sampai kapan ini semua akan terjadi karena faktanya, hasil panen meningkat dan petani serta tengkulak mendapat keuntungan yang lebih besar. Siapa yang harus bertanggung jawab atas perusakan ekosistem dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat?

MENANAM POHON MEMBUAT HUTAN MEMBEBASKAN BUAH-BUAHAN DARI LINGKARAN SETAN PESTISIDA KIMIA YANG MEMABUKKAN

Sebenarnya ini ide yang sangat mengganggu, jika saya teruskan tulisan ini, saya tidak akan pernah berhenti. Namun jika tidak menuliskannya, saya akan sakit jiwa dibuatnya. Tentu saja itu bukan pilihan yang sulit karena faktanya saya terus menulis dan memikirkan apa yang harus dilakukan.

Percaya atau tidak, tiba-tiba telepon bordering dan seseorang di ujung sana di akhir pembicaraan menawarkan meminjamnya tanahnya untuk menanam bibit Pohon Nimba.

Baiklah!

Saya langsung memikirkan skema kerja sebagai berikut :

1. Mengumpulkan data.

2. Membuat Bibit

a. Mengumpulkan Bibit di bawah pohon induknya

b. Memesan Biji Nimba ke Situbondo

c. Menargetkan 1000 Pohon Nimba di akhir bulan Agustus 2011

3. Men-training Petani Pembibit

4. Menyediakan Lahan

5. Membagi-bagikan Bibit Pohon Nimba kepada Masyarakat yang benar-benar serius untuk menanam

6. Cukup.

Salah atau benar apa yang saya pikirkan tidak menjadi masalah. Kita akan lihat apa yang akan terjadi nanti dan kita evaluasi.

Saya berpikir realistis, tidak akan ada orang yang mau menanam jika tidak memberikan dampak ekonomi atau dampak sosial atau dampak spiritual atau ketiga-tiganya kepada masyarakat. Selama ini, Pohon Nimba selama ini tidak memiliki dampak yang significant pada kehidupan masyarakat, oleh karena itu saya ingin langsung memulai menggabungkan dampak ekonomi dan dampak sosial sekaligus. Caranya?

Sampai disini saya berhenti menulis.

Namun tak berhenti berpikir. Saya telpon Aditya Aryo Andhana, seorang sahabat yang saya tahu tidak akan mengiris-iris ide yang saya sampaikan dengan kritik yang terlampau tajam. Saya hanya perlu bercerita kepada teman yang saya tahu dia akan terstimulasi dan tergoda dengan ide yang saya sampaikan. Saya ceritakan kepadanya tentang PRAJURIT NABATI.

Prajurit Nabati adalah sebuah konsep perlawanan terhadap hama tanaman dengan menggunakan Pestisida Alami. Tak hanya konsep, Prajurit Nabati juga merupakan Ruang dan Tempat (Space and Place) di mana dari sini dipersiapkan segala Amunisi untuk membasmi musuh-musuh yang mengganggu tanaman produksi kita. Ini kesempatan kita untuk mengurangi pemakaian Pestisida Kimia yang berbahaya. Ini saat yang tepat untuk menggiring takdir agar memberikan usia yang lebih panjang dan kualitas hidup yang lebih baik bagi generasi muda.

Ruang itu saya menyebutnya MABES PRATI, Markas Besar Prajurit Nabati. Di sini disiapkan bibit Tanaman Nimba untuk dibagikan cuma-cuma kepada kelompok masyarakat ataupun dijual dengan sangat murah kepada individu-individu. Mabes Prati pun menampung produksi komoditas Nimba masyarakat dan dibeli dengan harga pantas. Mabes Prati juga membuat mesinsederhana dengan teknologi tepat guna untuk mengolah komoditas menjadi produk yang bisa disalurkan langsung kepada masyarakat atau petani, berupa pupuk dan pestisida alami dengan harga murah. Dan kebetulan, Adit dengan senang hati mau berivestasi untuk menyiapkan semuanya.

Wow!

Saya membayangkan, jika ini terjadi, aka nada siklus yang berputar dan terus berkelanjutan secara sehat. Perlahan tapi pasti masyarakat akan mulai menanam karena memberi dampak significant pada kehidupan ekonomi dan sosialnya. Masyarakat juga akan memelihara Pohon Nimba sebagai mana tukang Ojek memandikan sepeda motornya, sebagaimana Seniman Patung merawat pahatnya. Ada tanggung jawab, ada keikhlasan dan ada kebutuhan untuk terus menjaga. Masyarakat akan terus menanam, memelihata, menghijaukan, memperbaiki kualitas lingkungan dan juga mendapat keuntungan. Sehingga pada titik tertentu Prajurit Nabati bisa dikenal sebagai situs perlawanan Prajurit Anak-anak Baik Hati.

Ada banyak hal yang masih harus dipikirkan dan ada banyak orang yang akan saya telpon. Namun yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan tulisan ini agar tidak bertele-tele.

Sekian.

Sekolah Daur Ulang


Setiap kali saya berada dalam pengembaraan keliling Pulau Jawa, saat kebosanan mengendarai mobil melanda, saya selalu membayangkan apa yang baru saja dilewati.

Saat itu di wilayah Temanggung, dalam perjalanan dari arah Semarang menuju Jogja. Saya membayangkan apa yang baru saja saya lihat di Semarang. Seperti biasanya, kunjungan ke Semarang selalu menjadi kunjungan yang “melelahkan” mental dan spiritual karena saya selalu menyempatkan diri menjelajahi “lautan barang bekas” yang selalu menuntut energy ekstra keras untuk menjadikannya sesuatu. Dan itu selalu menjadi hantu, menjadi hantu, menjadi hantu dan menjadi hantu yang selalu menghantui setiap perjalanan selepas dari Kota Semarang.

Tentu saja, dihantui oleh barang-barang bekas yang eksotik jauh lebih baik daripada dihantui oleh hantu sungguhan meskipun hantunya juga eksotik. Siapa yang peduli dengan hantu cantik nan eksotik? Tapi saya sungguh peduli dengan barang-barang bekas nan eksotik itu.

Sudah sejak lama saya mengumpulkan dan menikmati eksotika barang-barang bekas yang barangkali pada eranya merupakan sebuah penemuan revolusioner. Sudah sejak lama saya larut dalam belantara barang-barang bekas di seantero kota dan pelosok-pelosok Jawa. Sudah sejak lama saya berburu dan memangsa barang-barang bekas di Kudus, Blora, Bojonegoro, hingga Situbondo. Sudah lama saya menjadi Arsitek “Pemulung” yang membangun mimpi dari dasar kubangan barang-barang sisa.

Sudah lama saya asik sendiri, jalan sendiri dan benar-benar sendiri sehingga kadang merindukan seseorang untuk berbagi. Sudah lama saya ingin mengajak semua orang untuk mengerti dan membagi apa yang saya lakukan adalah sebuah realitas yang sama sekali bukan mimpi. Namun baru kali ini saya memikirkan yang satu ini : Sekolah Daur Ulang.

Sekolah yang akan membuat saya tidak merasa sendiri memikirkan apa yang ada di Semarang, Blora ataupun Situbondo. Sekolah yang akan memberikan kesempatan pada generasi muda untuk belajar dan mengetahui mengapa semua harus didaur ulang. Sekolah yang memberikan tantangan bagi insan-insan kreatif untuk terus berpikir. Dan sekolah yang akan menjadi ladang pencaharian baru bagi sejumlah orang yang gemar bekerja keras.

Sejenak saya berhenti berpikir. Mengambil langkah untuk menuliskan pesan-pesan yang berteriak-teriak di dalam pikiran dan jadilah tulisan ini. Dan sekarang saya akan berpikir bagaimana cara merealisasikannya.

Namun sebelumnya saya butuh waktu, dan secangkir kopi.


Senin, 23 Februari 2009

Atau Bayar Saja Saya Dengan Pohon


Pengalaman saya pasti dialami oleh sebagian dari kita yang pernah mengenyam pendidikan arsitektur. Seorang teman atau saudara datang minta dibuatkan design rumah atau kantornya. Awalnya pasti bermula dari basa-basi, tapi selanjutnya kegamangan-kegamangan pun terjadi.

Bagaimanapun juga membuat komitmen professional dengan teman atau saudara tak pernah menjadi persoalan yang mudah. Batasan-batasan sosial, kultural dan batasan professionalnya sendiri terlampau besar. Berapa kita menentukan fee? Bagaimana memberlakukan penalty? Dimana dan bagaimana kita presentasi? Apa saja klausul yang akan kita sepakati? Dan sejumlah kerikuhan-kerikuhan lain yang sebenarnya bagi arsitek tak terlalu kita pikirkan, tapi sering mendatangkan sejumlah kecanggungan justru di pihak “klien”.

Sebagai arsitek yang tidak lagi menyandarkan hidup sebagai arsitek professional, saya masih sering mengalami situasi seperti ini. Tapi beberapa bulan terakhir saya menemukan sebuah solusi yang mungkin akan saya bakukan untuk terus dipakai hingga akhir hayat nanti.

Solusi penemuan saya itu adalah, saya tidak mau lagi dibayar dengan sejumlah uang. Akan tetapi karena sejumlah proses yang saya lakukan memerlukan sejumlah “uang bensin” maka para “klien” saya haruskan membayar dengan sejumlah pohon. Iya, sejumlah pohon. “Klien” yang “mempekerjakan” saya akan saya “paksa” untuk menanam pohon.

Saya pun mensyaratkan pohon tertentu seperti pohon asam, pohon leci, kelengkeng, sawo, beringin, cempaka, jati dan pohon-pohon berumur panjang lainnya untuk ditanam di halaman rumah, di kebun atau di tempat lainnya, termasuk di tempat umum. Setelahnya, tak lupa akan saya “edukasi” para “klien” tersebut supaya terus menanam dan memelihara pohon dan merayakan hari kelahiran putra putri dan keluarga kecilnya dengan menanam pohon.

Karena saya tidak lagi arsitek professional, maka uang bukan segalanya bagi saya. Uang akan habis dalam durasi yang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Sedangkan pohon akan selalu tumbuh dan memberi arti dalam setiap senti pertumbuhannya tak hanya bagi pohon tapi juga bagi kita manusia.

Jadi fair kan? Saya dibayar dengan “pantas”, tidak ada kegamangan dan sedikit memberi perlambatan bagi penghancuran bumi yang kita cintai ini.

Ada yang mau bergabung? Mari kita buat Komunitas ARSITEK PENANAM POHON INDONESIA.

Rabu, 05 November 2008

Malaikat-malaikat Penolongku

Bagi sebagian orang barangkali uang dua puluh ribu rupiah hanya cukup untuk me-loundry baju. Engkau boleh mengecamku, engkau boleh mencapku apa saja, tapi kadang itulah jumlah yang bisa kuberikan dalam satu hari kepada orang yang bekerja untukku. Aku tahu itu tidak adil, tapi apa yang bisa kulakukan?

Aku datang ke sebuah system dimana keadaan memang seperti itu. Sekali lagi engkau boleh menyebutku kompeni atau apa saja, tapi aku benar-benar bukan Robinhood yang bisa memberikan kejutan buat mereka. Kadang aku berikan sesuatu yang kuanggap itu adalah jerih payah mereka, tetap saja itu tidak seberapa dan aku tahu itu semua tidak adil. Apa yang harus aku lakukan?

Aku bisa saja pergi dan tak pernah datang lagi, tapi aku tahu itu tidak akan membuat semua lebih bahagia. Aku bisa saja berhenti dan hanya datang untuk sekedar minum kopi, tapi aku tahu itu semua hanya akan membuat kita sama-sama rindu untuk melakukan sesuatu seperti dulu.

Di benakku, mereka bukanlah orang-orang yang bekerja untukku, melainkan malaikat-malaikatku. Aku tahu, aku akan tetap bisa seperti ini dengan ada atau tidak ada mereka, dan aku pun tahu, aku tak akan pernah mengalami perasaan ini jika tak tak pernah bertemu dengan mereka. Perasaan dimana mereka semua adalah bagian yang tak terpisahkan dariku. Perasaan yang membuat aku tak akan pernah melupakan apa yang telah mereka berikan padaku.

Kadang aku berhayal, mengapa aku tidak terlahir di keluarga kaya raya sehingga aku bisa berikan saja apa yang mereka butuhkan. Tapi jika aku kaya raya apa aku sempat mengenal dan memikirkan mereka? Atau jadikan saja aku Robinhood beneran yang bisa mengalihkan sebagian kepunyaan orang kaya buat mereka, bagaimana pun caranya. Tapi apakah itu semua menjamin akan keadaan yang lebih indah dari apa yang terjadi sekarang? Aku melihat mereka bercengkrama dan selalu punya waktu bergembira. Aku merasakan kebahagian seperti apa yang aku rasakan.

Itu sebabnya saat ini aku tidak terlalu memikirkan mereka, tapi aku sedang memikirkan apa yang bisa kulakukan buat anak-anak dan cucu-cucu mereka, yang tak lain adalah anak-anak dan cucu-cucu bangsa ini. Sejujurnya, inilah “proyek” terbesar buatku sekarang. Aku harap aku bisa memuaskan “klien”-ku yang tak lain dan tak bukan adalah malaikat-malaikatku sekarang ini.

Selasa, 04 November 2008

Universitas Pengrajin Indonesia

Tanpa terasa, sudah lima tahun aku dihidupi oleh para pengrajin. Belum terlalu lama, tapi aku merasa sudah mengenal dan bersama mereka selama puluhan tahun. Aku tahu semua masalah yang menghantam dari raut wajah mereka. Aku tahu kesulitannya dari bahasa tubuh mereka. Aku bahkan tahu apa yang mereka inginkan dari desah nafasnya.

Sebagian pengerajin hidup pas-pasan. Meskipun piramida sebuah usaha yang berputar selalu menempatkan satu atau beberapa orang berada di puncak. Memang tidak adil jika kita menilai kuantitas kehidupan hanya dari satu sudut saja, tapi tetap saja terasa tidak adil manakala kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kombinasi sebuah keterampilan tingkat tinggi dan kerja keras yang begitu spartan hanya cukup untuk melangsungkan hidup satu setengah hari.

Kali ini aku tidak ingin berlarut dengan segala kendala karena aku sedang memikirkan hal yang jauh lebih besar. Aku tidak tahu ini akan dapat merubah nasib pengrajin secara keseluruhan atau hanya akan menjebak mereka dalam eksklusifitas belaka. Aku sedang memikirkan untuk membuat sebuah universitas. Universitas Pengrajin Indonesia.

Tentu saja apa yang aku bayangkan tidak sama dengan kebanyakan universitas lainnya karena di universitas ini tidak memerlukan ijazah sekolah menengah atas. Tak peduli ia seorang lulusan sekolah dasar atau orang yang tidak pernah sekolah sekalipun, semua bisa masuk universitas ini. Pengajarnya pun bukan orang dengan gelar akademis berjibun-jibun, tapi pengrajin itu sendiri. Pengrajin yang sangat terampil di bidangnya. Lama “perkuliahan” sendiri tidak dibatasi, tapi aku merasa 3 atau 6 bulan adalah waktu yang cukup untuk belajar sebuah keterampilan.

Jurusannya tergantung situasi dan kondisi pada saat itu. Setiap mahasiswa dipersilahkan untuk belajar kerajinan pahat batu atau kayu, kerajinan perak atau emas, bikin keramik atau terracotta, menganyam alang-alang atau bambu, membuat lampu atau sekedar album foto dari tanaman kering, membuat kaca atau atau mengolah tembaga. Melukis atau membuat wayang. Memotong batu alam atau memanfaatkan limbah alam, atau ingin belajar semuanya. Aku hanya akan memastikan para mahasiswa mendapat pengajaran dari orang yang memang sangat kompeten di bidangnya dan sesekali mendampingi jika ada kesulitan komunikasi antara guru dengan muridnya. Setelah itu mereka dipersilahkan berwirausaha setelah sebelumnya diberikan bekal ilmu pemasaran dan ilmu mengelola usaha kecil.

Aku banyak melihat pengrajin yang tidak punya posisioning sehingga terpaksa menjual dengan harga murah. Aku banyak melihat pengrajin tidak punya modal yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya sehingga terpaksa menerima pekerjaan yang keuntungannya hanya bisa ditukar dengan upah hariannya. Aku banyak melihat pengrajin yang tak tahu bagaimana memasarkan karyanya. Aku dan gagasanku ingin ada untuk mengantarkan mereka pada taraf dimana kerja keras dan kemampuan mendapat penghargaan selayaknya, meskipun aku belum yakin jika apa yang kupikirkan ini bisa menjadi jawaban atas pengharapan mereka.

Aku pernah memikirkan universitas ini, dengan segala keunikannya menjadi salah satu tempat wisata belajar di Bali, aku membayangkan tempat ini menjadi tujuan pertama setiap anak muda putus sekolah yang punya rencana mengembangkan dirinya. Aku memikirkan banyak hal tentang ini, tapi sejujurnya aku tak bisa lakukan ini seorang diri.

Gandhi Masih Ada

Dari kelap-kelip cahaya lampu yang semakin lama semakin mendekat aku dapat mengira jika aku akan memasuki sebuah kota yang sangat besar. Malam itu pukul sebelas, hujan membasahi sekujur Bandara Chhatrapati Shivaji. Sebuah bandara internasional yang sangat padat. Aku merasa seperti The Beatles yang melakukan cross the universe mencari Jay Sang Guru Deva saat pertama menginjakkan kakiku di tanah anak benua ini, merinding, terpana, dan sedikit menyembunyikan antusiasme dalam diriku.

“Selamat datang di Mumbai”, kata seseorang di dalam ponselku. “Terma kasih, saya sangat terkesan”, jawabku. Aku memang terkesan dengan bandara dan kota ini. Mengapa bisa ada begitu banyak manusia disini? Apakah aku berada di waktu yang sama dengan di Kuala Lumpur, kota yang baru saja kutinggalkan? Mengapa aku merasa seperti baru saja melakukan perjalanan waktu mundur selama 30 tahun?

Sepintas bandara ini mirip dengan Stasiun Kota di Jakarta. Suasananya, hiruk pikuknya, kebersihannya, dan usia bangunannya. Aku terkesima dengan pemandangan di hadapanku. Pemandangan yang persis sama dengan apa yang hanya ada di film-film India. Mobil-mobil itu, bajaj itu, pakaian polisi-polisi itu, keramaian itu, parkir yang padat dan becek itu, ternyata itu semua nyata. Aku masih terkesima ketika sekonyong-konyong sampai di sebuah apartemen yang untuk ukuran Jakarta termasuk kumuh. Tapi semua tak seperti yang kubayangkan ketika aku bergerak memasukinya. Nanti akan kuceritakan seperti apa di dalam “apartemen kumuh” itu. Aku tidur dalam kelelahan perjalanan yang sesungguhnya sangat kunikmati.

Pagi hari kota jauh lebih padat. Hujan yang semakin lebat tak cukup menahan hasratku untuk segera pergi. Jalanan macet dan banjir. Aku menuju ke luar kota. Sebuah perjalanan yang sangat panjang, karena sudah kukatakan, kota ini sangat besar. Sebuah kota yang sangat besar dan sederhana. Hingga hujan berhenti dan entah berapa halte yang sudah kulewati. Kulihat orang-orang yang berjalan kaki di sepanjang jalan. Mereka seperti berjalan menuju tempat yang sangat jauh. Mau kemana mereka? Mengapa mereka berjalan kaki? Disepanjang perjalanan terus kuperhatikan orang-orang yang berjalan kaki itu. Satu demi satu kubaca roman wajah orang-orang itu. Wajah-wajah yang memendam penderitaan, harga diri dan pengharapan, hingga akhirnya aku menemukan jawaban kemana orang-orang itu melangkah. Mereka sedang bergerak menapaki jejak-jejak kebersahajaan yang ditinggalkan Gandhi setengah abad yang lalu, dan menuju kemakmuran yang dicita-citakan para pendiri bangsa itu dengan kemandirian dan kemampuan mereka sendiri.

Baru kusadari jika mobil-mobil itu, jalanan itu, pakaian polisi-polisi itu, bangunan itu, orang-orang dan waktu yang kupikir tak sama itu adalah penanda-penanda bahwa apa yang diperjuangkan Gandhi dulu ternyata masih ada.

Dua Mimpi untuk Lombok dan Jawa

Sudah tak terhitung berapa kali aku pergi menjelajahi Pulau Lombok hingga ke gili-gilinya. Entah berapa kali aku mengembara di kedalaman belantara Pulau Jawa. Dua buah pulau yang secara geografis menjadi pengawal Pulau Bali entah dari kapan dan entah sampai kapan. Dalam setiap pengembaraan aku mengamati banyak hal. Tanahnya, airnya, udaranya, masyarakatnya, sumber daya alamnya, makanannya, keunikan budayanya hingga ke barang-barang antiknya. Namun dari semua hal yang kuamati dan yang kupikirkan, tak ada yang sedemikian hebat mengganggu pikiranku selain satu hal di masing-masing pulau tersebut. Satu hal yang tak pernah berubah sedari awal aku datang hingga perjalanan terakhirku.

Di Lombok, aku menemukan sebuah oase pemikiran yang selalu giat kusampaikan kepada semua orang Lombok yang kutemui. Kepada tukang gali dan tukang bongkar pasir di sepanjang By Pass Ngurah Rai, kepada tukang koran di lampu-lampu merah, pada para veteran Malaysia dengan pengalaman gerilya dan cambuknya di Negeri Jiran, pada keluargaku yang pernah dan masih tinggal di Lombok, dan tentu saja pada semua orang Lombok yang kutemui di kampung halaman mereka. Satu hal itu adalah, mereka punya potensi yang sangat berlimpah di balik kering kerontang tanah mereka. Sama sekali tidak dibutuhkan sentuhan tangan midas untuk menyulap semua potensi yang ada menjadi emas, apalagi investor besar yang pasti akan lebih banyak mengeruk dan menguras. Tidak perlu mendatangkan orang-orang pintar dengan segudang gelar sarjana, apalagi para politikus yang gemar ingkar janji. Cukup dengan sebuah kapal bekas dengan daya muat yang cukup besar!

Aku sudah sangat lama memikirkan ini, jadi siapapun kupersilahkan untuk mendebatnya. Di Bali, pengrajin yang ingin mendapatkan tanah liat harus bersusah payah membuat lubang yang sangat besar ke bawah tanah, sedangkan di Lombok tanah dan bukitnya berlempung. Alang-alang tumbuh tanpa harus dipelihara. Bebatuan ada di setiap jengkal kedalaman tanahnya. Dalam perspektif usaha kecil, semua itu adalah modal dasar yang sangat besar. Ditambah dengan tenaga kerja yang sangat murah dan keterampilan yang sangat baik, Lombok sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra usaha kecil dengan daya saing yang luar biasa. Pemasarannya, kemana lagi kalau bukan di Bali? Untuk itulah, Lombok memerlukan sebuah kapal yang yang bisa mengangkut hasil produsinya ke Bali, lalu kemudian didistribusikan ke seluruh dunia.

Selama ini yang terjadi adalah, penyebrangan dari Lombok ke Bali dan sebaliknya sangat mahal. Dan itu menyebabkan kendala terbesar perkembangan usaha kecil, meskipun mereka tahu Bali adalah pasar yang sangat besar. Sama sekali tidak ada pembelaan terhadap usaha rakyat. Biaya penyebrangan 1 truk alang-alang sama dengan 1 truk pesawat televisi. Truk yang mengangkut mobil dan motor ke Lombok dikenakan biaya penyebrangan yang sama dengan batu apung dan tali ijuk yang masuk ke Bali. Sungguh tidak adil! Padahal jika otoritas di Lombok punya beberapa armada kapal yang bisa menyebrangkan hasil usaha rakyat dengan biaya murah, betapa dahsyatnya efek domino yang akan terjadi di Lombok. Petaninya, pengrajinnya, buruhnya, pengusaha kecilnya, semua terkena imbas yang ujung-ujungnya akan memangkas pengangguran secara significant dan meningkatkan pendapatan perkapita masyarakatnya. Dengan demikian 2 mimpi terbesar orang Lombok selama ini : Bakerja di Malaysia dan punya Bandara Internasional boleh dikubur dalam-dalam. Dengan usaha kecil dan pariwisatanya saja Lombok sudah bisa menghidupi NTB dengan sangat layak. Nanti aku akan ceritakan betapa indahnya pantai-pantai di Lombok.

Di Jawa setali tiga uang. Di tengah kemiskinan yang menghantui sebagian masyarakat tak ada gerakan yang benar-benar menggali potensi tanah air dan udara pulau Jawa secara bersungguh-sungguh. Para pengambil keputusan terlalu sibuk menggali minyak dan gas yang terbukti tidak pernah memakmurkan masyarakat. Contohnya Cepu dan Balongan (Indramayu). Mereka tidak lebih makmur daripada Magetan yang hanya mengandalkan kulit atau Wonosobo yang mengandalkan pertanian. Dari sekian banyak kemungkinan yang ada, selalu saja ditempuh jalan termudah yang tidak bisa berkesinambungan menghidupi penduduknya yang semakin lama semakin bertambah.

Mungkin tak ada tempat di dunia ini yang sesubur Pulau Jawa. Atau itu juga yang membuat mereka terlena? Semua potensi ada di pulau ini. Emas, minyak, hutan, buah-buahan, satwa, bebatuan dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan. Jangan tanya penduduknya. Apa saja bisa dilakukannnya. Manusia Jawa adalah manusia cerdas sejak jaman dulu kala. Tapi apa yang mereka lakukan sekarang? Mereka menebangi hutannya sendiri dengan membabi buta. Mereka mengebor minyaknya sendiri bahkan sampai tidak tahu bagaimana cara menutupnya. Dan mereka menggali batu-batuan untuk dikuasakan pada asing.

Padahal dengan segala kelebihannya Jawa sangat potensial untuk bangkit menjadi sebuah pusat kebudayan baru di Asia Tenggara. Aku membayangkan, 200 juta penduduk Indonesia terlalu sedikit dibandingkan apa yang bisa diberikan Tanah Jawa yang sedemikian suburnya. Sungai-sungai dan hutannya adalah penyeibang dan tanah-tanah kering tandusnya adalah investasi terbaik yang bisa ditanam di Pulau Jawa karena di tanah tandusnya itulah pohon jati menemukan tempat tumbuh terbaiknya. Seperti kita tahu, Jati Jawa adalah kayu terbaik di dunia. Jika mulai sekarang setiap penduduk menanam sebuah pohon jati, dan menginvestasikan 2 buah pohon bagi anak yang baru lahir, apa yang akan terjadi 50 tahun ke depan? Sebuah kebudayaan kayu terbesar di dunia yang akan mengantarkan Jawa kembali ke Jaman kemasyurannya seperti di abad ke-13 lalu. Dan rakyat lagi-lagi hanya akan hidup dari efek domino yang terjadi dari industrialisasi pohon-pohon jati tersebut.

Di dalam pesawat yang membawaku pulang dari Jogja atau di dalam fery yang akan merapatkanku ke Padangbay aku selalu berpikir : Mengapa mereka tak pernah berpikir tentang Kapal Bekas dan Menanam Jati? Satu-satunya gerbang pulau-pulau itu untuk mengantarkan mereka menuju jaman keemasan. Bahkan tak pernah ada calon pejabat public yang mengagendakan itu menjadi isu politik.

Sampai-sampai aku sempat berpikir sangat irrasional : Mengapa tidak kusarankan saja Manus dan Sahwan untuk meniti karir politik di Jawa dan Lombok untuk menjadi orang nomer satu di sana nanti supaya apa yang kupikirkan ini dapat direalisasikan suatu saat nanti.

Sabtu, 01 November 2008

Jadi Petani di Usia 45.

Semakin aku melihat semua yang mungkin untuk dilakukan, semakin aku ingin untuk menjadi petani suatu saat nanti karena menurutku petani adalah pekerjaan mulia yang sangat menyehatkan, baik fisik maupun mental. Tentu saja aku tidak akan menjadi petani biasa. Makanya aku perlu persiapan dan tidak akan pernah menunda begitu saatnya telah tiba.

Aku ingin menggarap lahan yang tandus, mengusahakan air dan membuat danau di tanahku sendiri. Menanam pohon leci di setiap peringatan ulang tahun istri dan anak-anakku, menanam seratus pohon beringin untuk menyediakan sarang dan mengundang burung-burung serta memanfaatkan akar-akarnya untuk menampung air hujan. Sementara itu kusemai ribuan butir biji papaya agar buahnya bisa menjadi makanan burung-burung dan tupai. Kutanam sayur untuk konsumsi sendiri dan kupelihara unggas dan ternak untuk menghidupi diri. Tak lupa kutanam pohon jati untuk investasi anak cucuku seratus tahun lagi. Lalu akan kuundang teman-temanku untuk datang ke gubukku serta menandai setiap kedatangan mereka dengan sebuah pohon buah dan memintanya datang 3 atau 4 tahun kemudian untuk memetik buahnya.

Akan kubuat hutan. Hutan buah-buahan, hutan bambu dan hutan tanaman langka.

Sementara itu aku akan menulis buku untuk tambahan biaya sekolah anak-anakku. Mungkin tak seberapa, tapi aku sangat meyakini jika mereka bisa hidup apa adanya. Pada saat yang sama aku akan memberikan pengetahuan arsitekturku kepada masyarakat tanpa dipungut bayaran. Membantu mereka dengan solusi-solusi arsitektur murah yang mengeksplorasi material setempat dan memberikan pemahaman bahwa arsitektur yang baik adalah ekspresi dari apa yang ada si sekitar kita.

Rabu, 29 Oktober 2008

Aku Pengusaha Arsitektur Kaki Lima

Aku tak ada bedanya dengan penjual gorengan atau pedagang kerak telor : sama-sama pedagang kaki lima. Hanya saja (mungkin) daganganku terdengar lebih keren : Arsitektur!

Meskipun keren, tetap saja tak ada bank yang mau percaya memberikan kredit untuk menyambung nafas usaha kaki lima seperti aku. Mengapa bank tidak percaya pada pengusaha kecil dengan sedikit jaminan, malah percaya konglomerat hitam yang bahkan kerugiannya pun ditanggung pemerintah? Seberapa banyak pedagang kaki lima yang ngemplang dibandingkan pengusaha yang dekat dengan kekuasaan?

Sama seperti mereka, akupun bekerja di jalanan. Bergerak kesana-kemari ke arah kemungkinan-kemungkinan. Pada suatu hari aku menyebut diriku pengusaha jalanan karena menghabiskan setengah waktuku di tempat yang tidak tetap.

Aku menyukai aroma tanah di kedalaman tambang bebatuan sama seperti aku menyukai aroma tanah liat di tungku pembakaran. Kunikmati tajamnya irisan alang-alang yang memberi sayatan kecil pada kulitku sama seperti kunikmati deru mesin pemotong batu yang memekakkan pendengaranku. Kuanggap perjalananku mengelilingi Lombok dan menjelajah kedalaman Jawa sebagai liburan yang telah lama kutunggu seperti halnya perjalanan ke luar negeri yang kuanggap kursus singkat untuk mengenal kebudayaan yang lain. Kujadikan keseharianku berlari menyusuri pematang sawah, menyebrangi sungai dan berkunjung ke ladang sebagai inisiasi sebelum memutuskan untuk menjadi petani kelak.

Meskipun menghasilkan tidak seberapa, aku puas telah memberi harapan dan menjadi sandaran bagi banyak orang yang senantiasa mendoakan hal-hal yang baik buatku. Meskipun melelahkan, menjadi pengusaha kaki lima menjadi sebuah konsep pembebasan buatku. Bebas mengatur waktu, bebas menentukan arah kreativitasku dan bebas menentukan sikap : membayar pajak ke pemerintah yang korup atau membaginya bersama orang-orang yang jauh lebih membutuhkan.