Selasa, 04 November 2008

Gandhi Masih Ada

Dari kelap-kelip cahaya lampu yang semakin lama semakin mendekat aku dapat mengira jika aku akan memasuki sebuah kota yang sangat besar. Malam itu pukul sebelas, hujan membasahi sekujur Bandara Chhatrapati Shivaji. Sebuah bandara internasional yang sangat padat. Aku merasa seperti The Beatles yang melakukan cross the universe mencari Jay Sang Guru Deva saat pertama menginjakkan kakiku di tanah anak benua ini, merinding, terpana, dan sedikit menyembunyikan antusiasme dalam diriku.

“Selamat datang di Mumbai”, kata seseorang di dalam ponselku. “Terma kasih, saya sangat terkesan”, jawabku. Aku memang terkesan dengan bandara dan kota ini. Mengapa bisa ada begitu banyak manusia disini? Apakah aku berada di waktu yang sama dengan di Kuala Lumpur, kota yang baru saja kutinggalkan? Mengapa aku merasa seperti baru saja melakukan perjalanan waktu mundur selama 30 tahun?

Sepintas bandara ini mirip dengan Stasiun Kota di Jakarta. Suasananya, hiruk pikuknya, kebersihannya, dan usia bangunannya. Aku terkesima dengan pemandangan di hadapanku. Pemandangan yang persis sama dengan apa yang hanya ada di film-film India. Mobil-mobil itu, bajaj itu, pakaian polisi-polisi itu, keramaian itu, parkir yang padat dan becek itu, ternyata itu semua nyata. Aku masih terkesima ketika sekonyong-konyong sampai di sebuah apartemen yang untuk ukuran Jakarta termasuk kumuh. Tapi semua tak seperti yang kubayangkan ketika aku bergerak memasukinya. Nanti akan kuceritakan seperti apa di dalam “apartemen kumuh” itu. Aku tidur dalam kelelahan perjalanan yang sesungguhnya sangat kunikmati.

Pagi hari kota jauh lebih padat. Hujan yang semakin lebat tak cukup menahan hasratku untuk segera pergi. Jalanan macet dan banjir. Aku menuju ke luar kota. Sebuah perjalanan yang sangat panjang, karena sudah kukatakan, kota ini sangat besar. Sebuah kota yang sangat besar dan sederhana. Hingga hujan berhenti dan entah berapa halte yang sudah kulewati. Kulihat orang-orang yang berjalan kaki di sepanjang jalan. Mereka seperti berjalan menuju tempat yang sangat jauh. Mau kemana mereka? Mengapa mereka berjalan kaki? Disepanjang perjalanan terus kuperhatikan orang-orang yang berjalan kaki itu. Satu demi satu kubaca roman wajah orang-orang itu. Wajah-wajah yang memendam penderitaan, harga diri dan pengharapan, hingga akhirnya aku menemukan jawaban kemana orang-orang itu melangkah. Mereka sedang bergerak menapaki jejak-jejak kebersahajaan yang ditinggalkan Gandhi setengah abad yang lalu, dan menuju kemakmuran yang dicita-citakan para pendiri bangsa itu dengan kemandirian dan kemampuan mereka sendiri.

Baru kusadari jika mobil-mobil itu, jalanan itu, pakaian polisi-polisi itu, bangunan itu, orang-orang dan waktu yang kupikir tak sama itu adalah penanda-penanda bahwa apa yang diperjuangkan Gandhi dulu ternyata masih ada.

Dua Mimpi untuk Lombok dan Jawa

Sudah tak terhitung berapa kali aku pergi menjelajahi Pulau Lombok hingga ke gili-gilinya. Entah berapa kali aku mengembara di kedalaman belantara Pulau Jawa. Dua buah pulau yang secara geografis menjadi pengawal Pulau Bali entah dari kapan dan entah sampai kapan. Dalam setiap pengembaraan aku mengamati banyak hal. Tanahnya, airnya, udaranya, masyarakatnya, sumber daya alamnya, makanannya, keunikan budayanya hingga ke barang-barang antiknya. Namun dari semua hal yang kuamati dan yang kupikirkan, tak ada yang sedemikian hebat mengganggu pikiranku selain satu hal di masing-masing pulau tersebut. Satu hal yang tak pernah berubah sedari awal aku datang hingga perjalanan terakhirku.

Di Lombok, aku menemukan sebuah oase pemikiran yang selalu giat kusampaikan kepada semua orang Lombok yang kutemui. Kepada tukang gali dan tukang bongkar pasir di sepanjang By Pass Ngurah Rai, kepada tukang koran di lampu-lampu merah, pada para veteran Malaysia dengan pengalaman gerilya dan cambuknya di Negeri Jiran, pada keluargaku yang pernah dan masih tinggal di Lombok, dan tentu saja pada semua orang Lombok yang kutemui di kampung halaman mereka. Satu hal itu adalah, mereka punya potensi yang sangat berlimpah di balik kering kerontang tanah mereka. Sama sekali tidak dibutuhkan sentuhan tangan midas untuk menyulap semua potensi yang ada menjadi emas, apalagi investor besar yang pasti akan lebih banyak mengeruk dan menguras. Tidak perlu mendatangkan orang-orang pintar dengan segudang gelar sarjana, apalagi para politikus yang gemar ingkar janji. Cukup dengan sebuah kapal bekas dengan daya muat yang cukup besar!

Aku sudah sangat lama memikirkan ini, jadi siapapun kupersilahkan untuk mendebatnya. Di Bali, pengrajin yang ingin mendapatkan tanah liat harus bersusah payah membuat lubang yang sangat besar ke bawah tanah, sedangkan di Lombok tanah dan bukitnya berlempung. Alang-alang tumbuh tanpa harus dipelihara. Bebatuan ada di setiap jengkal kedalaman tanahnya. Dalam perspektif usaha kecil, semua itu adalah modal dasar yang sangat besar. Ditambah dengan tenaga kerja yang sangat murah dan keterampilan yang sangat baik, Lombok sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra usaha kecil dengan daya saing yang luar biasa. Pemasarannya, kemana lagi kalau bukan di Bali? Untuk itulah, Lombok memerlukan sebuah kapal yang yang bisa mengangkut hasil produsinya ke Bali, lalu kemudian didistribusikan ke seluruh dunia.

Selama ini yang terjadi adalah, penyebrangan dari Lombok ke Bali dan sebaliknya sangat mahal. Dan itu menyebabkan kendala terbesar perkembangan usaha kecil, meskipun mereka tahu Bali adalah pasar yang sangat besar. Sama sekali tidak ada pembelaan terhadap usaha rakyat. Biaya penyebrangan 1 truk alang-alang sama dengan 1 truk pesawat televisi. Truk yang mengangkut mobil dan motor ke Lombok dikenakan biaya penyebrangan yang sama dengan batu apung dan tali ijuk yang masuk ke Bali. Sungguh tidak adil! Padahal jika otoritas di Lombok punya beberapa armada kapal yang bisa menyebrangkan hasil usaha rakyat dengan biaya murah, betapa dahsyatnya efek domino yang akan terjadi di Lombok. Petaninya, pengrajinnya, buruhnya, pengusaha kecilnya, semua terkena imbas yang ujung-ujungnya akan memangkas pengangguran secara significant dan meningkatkan pendapatan perkapita masyarakatnya. Dengan demikian 2 mimpi terbesar orang Lombok selama ini : Bakerja di Malaysia dan punya Bandara Internasional boleh dikubur dalam-dalam. Dengan usaha kecil dan pariwisatanya saja Lombok sudah bisa menghidupi NTB dengan sangat layak. Nanti aku akan ceritakan betapa indahnya pantai-pantai di Lombok.

Di Jawa setali tiga uang. Di tengah kemiskinan yang menghantui sebagian masyarakat tak ada gerakan yang benar-benar menggali potensi tanah air dan udara pulau Jawa secara bersungguh-sungguh. Para pengambil keputusan terlalu sibuk menggali minyak dan gas yang terbukti tidak pernah memakmurkan masyarakat. Contohnya Cepu dan Balongan (Indramayu). Mereka tidak lebih makmur daripada Magetan yang hanya mengandalkan kulit atau Wonosobo yang mengandalkan pertanian. Dari sekian banyak kemungkinan yang ada, selalu saja ditempuh jalan termudah yang tidak bisa berkesinambungan menghidupi penduduknya yang semakin lama semakin bertambah.

Mungkin tak ada tempat di dunia ini yang sesubur Pulau Jawa. Atau itu juga yang membuat mereka terlena? Semua potensi ada di pulau ini. Emas, minyak, hutan, buah-buahan, satwa, bebatuan dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan. Jangan tanya penduduknya. Apa saja bisa dilakukannnya. Manusia Jawa adalah manusia cerdas sejak jaman dulu kala. Tapi apa yang mereka lakukan sekarang? Mereka menebangi hutannya sendiri dengan membabi buta. Mereka mengebor minyaknya sendiri bahkan sampai tidak tahu bagaimana cara menutupnya. Dan mereka menggali batu-batuan untuk dikuasakan pada asing.

Padahal dengan segala kelebihannya Jawa sangat potensial untuk bangkit menjadi sebuah pusat kebudayan baru di Asia Tenggara. Aku membayangkan, 200 juta penduduk Indonesia terlalu sedikit dibandingkan apa yang bisa diberikan Tanah Jawa yang sedemikian suburnya. Sungai-sungai dan hutannya adalah penyeibang dan tanah-tanah kering tandusnya adalah investasi terbaik yang bisa ditanam di Pulau Jawa karena di tanah tandusnya itulah pohon jati menemukan tempat tumbuh terbaiknya. Seperti kita tahu, Jati Jawa adalah kayu terbaik di dunia. Jika mulai sekarang setiap penduduk menanam sebuah pohon jati, dan menginvestasikan 2 buah pohon bagi anak yang baru lahir, apa yang akan terjadi 50 tahun ke depan? Sebuah kebudayaan kayu terbesar di dunia yang akan mengantarkan Jawa kembali ke Jaman kemasyurannya seperti di abad ke-13 lalu. Dan rakyat lagi-lagi hanya akan hidup dari efek domino yang terjadi dari industrialisasi pohon-pohon jati tersebut.

Di dalam pesawat yang membawaku pulang dari Jogja atau di dalam fery yang akan merapatkanku ke Padangbay aku selalu berpikir : Mengapa mereka tak pernah berpikir tentang Kapal Bekas dan Menanam Jati? Satu-satunya gerbang pulau-pulau itu untuk mengantarkan mereka menuju jaman keemasan. Bahkan tak pernah ada calon pejabat public yang mengagendakan itu menjadi isu politik.

Sampai-sampai aku sempat berpikir sangat irrasional : Mengapa tidak kusarankan saja Manus dan Sahwan untuk meniti karir politik di Jawa dan Lombok untuk menjadi orang nomer satu di sana nanti supaya apa yang kupikirkan ini dapat direalisasikan suatu saat nanti.

Sabtu, 01 November 2008

Jadi Petani di Usia 45.

Semakin aku melihat semua yang mungkin untuk dilakukan, semakin aku ingin untuk menjadi petani suatu saat nanti karena menurutku petani adalah pekerjaan mulia yang sangat menyehatkan, baik fisik maupun mental. Tentu saja aku tidak akan menjadi petani biasa. Makanya aku perlu persiapan dan tidak akan pernah menunda begitu saatnya telah tiba.

Aku ingin menggarap lahan yang tandus, mengusahakan air dan membuat danau di tanahku sendiri. Menanam pohon leci di setiap peringatan ulang tahun istri dan anak-anakku, menanam seratus pohon beringin untuk menyediakan sarang dan mengundang burung-burung serta memanfaatkan akar-akarnya untuk menampung air hujan. Sementara itu kusemai ribuan butir biji papaya agar buahnya bisa menjadi makanan burung-burung dan tupai. Kutanam sayur untuk konsumsi sendiri dan kupelihara unggas dan ternak untuk menghidupi diri. Tak lupa kutanam pohon jati untuk investasi anak cucuku seratus tahun lagi. Lalu akan kuundang teman-temanku untuk datang ke gubukku serta menandai setiap kedatangan mereka dengan sebuah pohon buah dan memintanya datang 3 atau 4 tahun kemudian untuk memetik buahnya.

Akan kubuat hutan. Hutan buah-buahan, hutan bambu dan hutan tanaman langka.

Sementara itu aku akan menulis buku untuk tambahan biaya sekolah anak-anakku. Mungkin tak seberapa, tapi aku sangat meyakini jika mereka bisa hidup apa adanya. Pada saat yang sama aku akan memberikan pengetahuan arsitekturku kepada masyarakat tanpa dipungut bayaran. Membantu mereka dengan solusi-solusi arsitektur murah yang mengeksplorasi material setempat dan memberikan pemahaman bahwa arsitektur yang baik adalah ekspresi dari apa yang ada si sekitar kita.

Rabu, 29 Oktober 2008

Aku Pengusaha Arsitektur Kaki Lima

Aku tak ada bedanya dengan penjual gorengan atau pedagang kerak telor : sama-sama pedagang kaki lima. Hanya saja (mungkin) daganganku terdengar lebih keren : Arsitektur!

Meskipun keren, tetap saja tak ada bank yang mau percaya memberikan kredit untuk menyambung nafas usaha kaki lima seperti aku. Mengapa bank tidak percaya pada pengusaha kecil dengan sedikit jaminan, malah percaya konglomerat hitam yang bahkan kerugiannya pun ditanggung pemerintah? Seberapa banyak pedagang kaki lima yang ngemplang dibandingkan pengusaha yang dekat dengan kekuasaan?

Sama seperti mereka, akupun bekerja di jalanan. Bergerak kesana-kemari ke arah kemungkinan-kemungkinan. Pada suatu hari aku menyebut diriku pengusaha jalanan karena menghabiskan setengah waktuku di tempat yang tidak tetap.

Aku menyukai aroma tanah di kedalaman tambang bebatuan sama seperti aku menyukai aroma tanah liat di tungku pembakaran. Kunikmati tajamnya irisan alang-alang yang memberi sayatan kecil pada kulitku sama seperti kunikmati deru mesin pemotong batu yang memekakkan pendengaranku. Kuanggap perjalananku mengelilingi Lombok dan menjelajah kedalaman Jawa sebagai liburan yang telah lama kutunggu seperti halnya perjalanan ke luar negeri yang kuanggap kursus singkat untuk mengenal kebudayaan yang lain. Kujadikan keseharianku berlari menyusuri pematang sawah, menyebrangi sungai dan berkunjung ke ladang sebagai inisiasi sebelum memutuskan untuk menjadi petani kelak.

Meskipun menghasilkan tidak seberapa, aku puas telah memberi harapan dan menjadi sandaran bagi banyak orang yang senantiasa mendoakan hal-hal yang baik buatku. Meskipun melelahkan, menjadi pengusaha kaki lima menjadi sebuah konsep pembebasan buatku. Bebas mengatur waktu, bebas menentukan arah kreativitasku dan bebas menentukan sikap : membayar pajak ke pemerintah yang korup atau membaginya bersama orang-orang yang jauh lebih membutuhkan.