
Sudah tak terhitung berapa kali aku pergi menjelajahi Pulau Lombok hingga ke gili-gilinya. Entah berapa kali aku mengembara di kedalaman belantara Pulau Jawa. Dua buah pulau yang secara geografis menjadi pengawal Pulau Bali entah dari kapan dan entah sampai kapan. Dalam setiap pengembaraan aku mengamati banyak hal. Tanahnya, airnya, udaranya, masyarakatnya, sumber daya alamnya, makanannya, keunikan budayanya hingga ke barang-barang antiknya. Namun dari semua hal yang kuamati dan yang kupikirkan, tak ada yang sedemikian hebat mengganggu pikiranku selain satu hal di masing-masing pulau tersebut. Satu hal yang tak pernah berubah sedari awal aku datang hingga perjalanan terakhirku.
Di Lombok, aku menemukan sebuah oase pemikiran yang selalu giat kusampaikan kepada semua orang Lombok yang kutemui. Kepada tukang gali dan tukang bongkar pasir di sepanjang By Pass Ngurah Rai, kepada tukang koran di lampu-lampu merah, pada para veteran Malaysia dengan pengalaman gerilya dan cambuknya di Negeri Jiran, pada keluargaku yang pernah dan masih tinggal di Lombok, dan tentu saja pada semua orang Lombok yang kutemui di kampung halaman mereka. Satu hal itu adalah, mereka punya potensi yang sangat berlimpah di balik kering kerontang tanah mereka. Sama sekali tidak dibutuhkan sentuhan tangan midas untuk menyulap semua potensi yang ada menjadi emas, apalagi investor besar yang pasti akan lebih banyak mengeruk dan menguras. Tidak perlu mendatangkan orang-orang pintar dengan segudang gelar sarjana, apalagi para politikus yang gemar ingkar janji. Cukup dengan sebuah kapal bekas dengan daya muat yang cukup besar!
Aku sudah sangat lama memikirkan ini, jadi siapapun kupersilahkan untuk mendebatnya. Di Bali, pengrajin yang ingin mendapatkan tanah liat harus bersusah payah membuat lubang yang sangat besar ke bawah tanah, sedangkan di Lombok tanah dan bukitnya berlempung. Alang-alang tumbuh tanpa harus dipelihara. Bebatuan ada di setiap jengkal kedalaman tanahnya. Dalam perspektif usaha kecil, semua itu adalah modal dasar yang sangat besar. Ditambah dengan tenaga kerja yang sangat murah dan keterampilan yang sangat baik, Lombok sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sentra usaha kecil dengan daya saing yang luar biasa. Pemasarannya, kemana lagi kalau bukan di Bali? Untuk itulah, Lombok memerlukan sebuah kapal yang yang bisa mengangkut hasil produsinya ke Bali, lalu kemudian didistribusikan ke seluruh dunia.
Selama ini yang terjadi adalah, penyebrangan dari Lombok ke Bali dan sebaliknya sangat mahal. Dan itu menyebabkan kendala terbesar perkembangan usaha kecil, meskipun mereka tahu Bali adalah pasar yang sangat besar. Sama sekali tidak ada pembelaan terhadap usaha rakyat. Biaya penyebrangan 1 truk alang-alang sama dengan 1 truk pesawat televisi. Truk yang mengangkut mobil dan motor ke Lombok dikenakan biaya penyebrangan yang sama dengan batu apung dan tali ijuk yang masuk ke Bali. Sungguh tidak adil! Padahal jika otoritas di Lombok punya beberapa armada kapal yang bisa menyebrangkan hasil usaha rakyat dengan biaya murah, betapa dahsyatnya efek domino yang akan terjadi di Lombok. Petaninya, pengrajinnya, buruhnya, pengusaha kecilnya, semua terkena imbas yang ujung-ujungnya akan memangkas pengangguran secara significant dan meningkatkan pendapatan perkapita masyarakatnya. Dengan demikian 2 mimpi terbesar orang Lombok selama ini : Bakerja di Malaysia dan punya Bandara Internasional boleh dikubur dalam-dalam. Dengan usaha kecil dan pariwisatanya saja Lombok sudah bisa menghidupi NTB dengan sangat layak. Nanti aku akan ceritakan betapa indahnya pantai-pantai di Lombok.
Di Jawa setali tiga uang. Di tengah kemiskinan yang menghantui sebagian masyarakat tak ada gerakan yang benar-benar menggali potensi tanah air dan udara pulau Jawa secara bersungguh-sungguh. Para pengambil keputusan terlalu sibuk menggali minyak dan gas yang terbukti tidak pernah memakmurkan masyarakat. Contohnya Cepu dan Balongan (Indramayu). Mereka tidak lebih makmur daripada Magetan yang hanya mengandalkan kulit atau Wonosobo yang mengandalkan pertanian. Dari sekian banyak kemungkinan yang ada, selalu saja ditempuh jalan termudah yang tidak bisa berkesinambungan menghidupi penduduknya yang semakin lama semakin bertambah.
Mungkin tak ada tempat di dunia ini yang sesubur Pulau Jawa. Atau itu juga yang membuat mereka terlena? Semua potensi ada di pulau ini. Emas, minyak, hutan, buah-buahan, satwa, bebatuan dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan. Jangan tanya penduduknya. Apa saja bisa dilakukannnya. Manusia Jawa adalah manusia cerdas sejak jaman dulu kala. Tapi apa yang mereka lakukan sekarang? Mereka menebangi hutannya sendiri dengan membabi buta. Mereka mengebor minyaknya sendiri bahkan sampai tidak tahu bagaimana cara menutupnya. Dan mereka menggali batu-batuan untuk dikuasakan pada asing.
Padahal dengan segala kelebihannya Jawa sangat potensial untuk bangkit menjadi sebuah pusat kebudayan baru di Asia Tenggara. Aku membayangkan, 200 juta penduduk Indonesia terlalu sedikit dibandingkan apa yang bisa diberikan Tanah Jawa yang sedemikian suburnya. Sungai-sungai dan hutannya adalah penyeibang dan tanah-tanah kering tandusnya adalah investasi terbaik yang bisa ditanam di Pulau Jawa karena di tanah tandusnya itulah pohon jati menemukan tempat tumbuh terbaiknya. Seperti kita tahu, Jati Jawa adalah kayu terbaik di dunia. Jika mulai sekarang setiap penduduk menanam sebuah pohon jati, dan menginvestasikan 2 buah pohon bagi anak yang baru lahir, apa yang akan terjadi 50 tahun ke depan? Sebuah kebudayaan kayu terbesar di dunia yang akan mengantarkan Jawa kembali ke Jaman kemasyurannya seperti di abad ke-13 lalu. Dan rakyat lagi-lagi hanya akan hidup dari efek domino yang terjadi dari industrialisasi pohon-pohon jati tersebut.
Di dalam pesawat yang membawaku pulang dari Jogja atau di dalam fery yang akan merapatkanku ke Padangbay aku selalu berpikir : Mengapa mereka tak pernah berpikir tentang Kapal Bekas dan Menanam Jati? Satu-satunya gerbang pulau-pulau itu untuk mengantarkan mereka menuju jaman keemasan. Bahkan tak pernah ada calon pejabat public yang mengagendakan itu menjadi isu politik.
Sampai-sampai aku sempat berpikir sangat irrasional : Mengapa tidak kusarankan saja Manus dan Sahwan untuk meniti karir politik di Jawa dan Lombok untuk menjadi orang nomer satu di sana nanti supaya apa yang kupikirkan ini dapat direalisasikan suatu saat nanti.