Minggu, 17 Juli 2011

PRAJURIT NABATI


MENGHUTANKAN BALI UTARA DENGAN POHON NIMBA

Tadinya saya tidak terlampau peduli dengan Pohon Intaran karena setiap kali menemui pohon ini, pastilah saya sedang berada di daerah kering tandus yang tidak saya sukai. Namun siapa yang menyangka pada akhirnya saya memutuskan tinggal di Desa Bengkala yang kering tandus dan penuh Pohon Intaran?

Konflik kepentingan saya dengan Pohon Intaran terjadi sekitar tahun 2009, saat membangun Rumah Daur Ulang untuk Jill Matheson, seorang teman dari Melbourne. Saat itu, site di Pantai Lovina yang tidak terlampau besar juga ditumbuhi beberapa Pohon Intaran yang sudah cukup besar. Nah, “konflik” terjadi saat rumah knock down yang saya buat harus menempati ruang tempat tumbuhnya Pohon Intaran dan sebuah Pohon Kelapa di Belakang. Siapa yang harus mengalah?

Dulu, secara personal saya tidak mencintai pohon itu meskipun rasa sayang selalu ada untuk tumbuhan apapun. Dan saat harus memilih siapa yang harus dikorbankan, Pohon Intaran atau Pohon Kelapa, saya lebih memilih mengorbankan Pak Muji, Kepala Tukang saya. Akhirnya Pohon Kelapa tetap berdiri tegak di area kamar mandi, menembus lantai 2 hingga menembus atapnya, sedangkan pohon Intaran juga tetap tegak dengan beberapa dahan yang dipangkas. Ia berdiri di teras yang menghadap ke pantai dan menembus atap kanopinya. Sementara Pak Muji saya lihat menggerutu karena pekerjaannya bertambah banyak. “Anteng tho, Lik. Everything will gonna be Okay”.

Singkat cerita, Pohon Intaran (Azadirachta indica) atau banyak disebut Pohon Nimba alias Pohon Mimba atau bahasa londonya Neem Tree tidak benar-benar membuat saya penasaran hingga saya membuat status di Facebook yang dikomentari seorang teman bernama Ani Yulinda yang memaparkan secara singkat betapa Pohon Intaran itu banyak sekali kegunaannya.

Aha!

Ini seakan menjadi jawaban dari pertanyaan beberapa tahun yang lalu ketika saya punya mimpi untuk menghijaukan beberapa daerah di Bali Utara yang kering tandus dan tak terurus.

Nimba!

Saya langsung browsing saat itu juga, mengumpulkan data selengkap-lengkapnya tentang manfaat Pohon Nimba, dan menginstruksikan kepada tukang-tukang di rumah untuk memindahkan bayi-bayi Nimba yang bertebaran di sekitar pekarangan rumah di bawah induk-induknya yang untung saja tidak ada yang ditebang saat membangun rumah beberapa waktu lalu. Hasil browsing beberapa menit sungguh mengagetkan, betapa Pohon Nimba seperti Pohon Kelapa yang semua bagiannya bisa dimanfaatkan.

Saya sangat bergairah dan senang, meskipun saat itu juga pikiran saya melompat pada beberapa peristiwa yang saya lihat beberapa bulan terakhir dalam perjalanan dari Desa Tamblang menuju Kota Singaraja. Banyak sekali batang-batang Nimba yang baru saja ditebang. Kasihan. Padahal, jika kita mengetahui lebih awal kita akan bisa melakukan sedikit usaha untuk mengurangi penebangan pohon-pohon itu karena jika masyarakat tahu manfaat sebenarnya, saya pikir tak seorang pun yang akan memutuskan untuk menebang Pohon Nimba karena sekali lagi, semua bagian Nimba bisa dimanfaatkan.

Secara singkat, Daun Nimba bagus untuk pupuk organik dan bahan dasar kosmetik. Tangkainya banyak digunakan untuk menggosok gigi. Batangnya jangan ditanya, bisa untuk kusen, furniture dan ukiran. Kandungan zat aktif di dalamnya juga bermanfaat luar biasa. Namun yang paling “mengganggu” dan membuat saya tidak bisa tidur adalah : Bijinya bisa digunakan untuk Pestisida Alami.

Oh my God. Inikah jawaban dari investigasi Buah Anggur di Desa Banjar yang saya lakukan beberapa bulan yang lalu? Inikah jawaban dari pertanyaan yang mengganggu saya selama bertahun-tahun atas meroketnya bisnis Tengkulak Mangga di desa saya beberapa tahun terakhir?

Kabupaten Buleleng, sebagai daerah penghasil buah-buahan terbesar di Bali telah terjebak dalam ketergantungan pestisida kimia yang akut tanpa ada usaha kongkrit untuk menghentikan ketergantungan itu. Pohon buah-buahan dipaksa menelan “candu” yang membuat pohon-pohon mampu menghasilkan sebanyak-banyaknya untuk para tengkulak buah-buahan yang telah mengijon tanah-tanah rakyat. Sampai kapan ini semua akan terjadi karena faktanya, hasil panen meningkat dan petani serta tengkulak mendapat keuntungan yang lebih besar. Siapa yang harus bertanggung jawab atas perusakan ekosistem dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat?

MENANAM POHON MEMBUAT HUTAN MEMBEBASKAN BUAH-BUAHAN DARI LINGKARAN SETAN PESTISIDA KIMIA YANG MEMABUKKAN

Sebenarnya ini ide yang sangat mengganggu, jika saya teruskan tulisan ini, saya tidak akan pernah berhenti. Namun jika tidak menuliskannya, saya akan sakit jiwa dibuatnya. Tentu saja itu bukan pilihan yang sulit karena faktanya saya terus menulis dan memikirkan apa yang harus dilakukan.

Percaya atau tidak, tiba-tiba telepon bordering dan seseorang di ujung sana di akhir pembicaraan menawarkan meminjamnya tanahnya untuk menanam bibit Pohon Nimba.

Baiklah!

Saya langsung memikirkan skema kerja sebagai berikut :

1. Mengumpulkan data.

2. Membuat Bibit

a. Mengumpulkan Bibit di bawah pohon induknya

b. Memesan Biji Nimba ke Situbondo

c. Menargetkan 1000 Pohon Nimba di akhir bulan Agustus 2011

3. Men-training Petani Pembibit

4. Menyediakan Lahan

5. Membagi-bagikan Bibit Pohon Nimba kepada Masyarakat yang benar-benar serius untuk menanam

6. Cukup.

Salah atau benar apa yang saya pikirkan tidak menjadi masalah. Kita akan lihat apa yang akan terjadi nanti dan kita evaluasi.

Saya berpikir realistis, tidak akan ada orang yang mau menanam jika tidak memberikan dampak ekonomi atau dampak sosial atau dampak spiritual atau ketiga-tiganya kepada masyarakat. Selama ini, Pohon Nimba selama ini tidak memiliki dampak yang significant pada kehidupan masyarakat, oleh karena itu saya ingin langsung memulai menggabungkan dampak ekonomi dan dampak sosial sekaligus. Caranya?

Sampai disini saya berhenti menulis.

Namun tak berhenti berpikir. Saya telpon Aditya Aryo Andhana, seorang sahabat yang saya tahu tidak akan mengiris-iris ide yang saya sampaikan dengan kritik yang terlampau tajam. Saya hanya perlu bercerita kepada teman yang saya tahu dia akan terstimulasi dan tergoda dengan ide yang saya sampaikan. Saya ceritakan kepadanya tentang PRAJURIT NABATI.

Prajurit Nabati adalah sebuah konsep perlawanan terhadap hama tanaman dengan menggunakan Pestisida Alami. Tak hanya konsep, Prajurit Nabati juga merupakan Ruang dan Tempat (Space and Place) di mana dari sini dipersiapkan segala Amunisi untuk membasmi musuh-musuh yang mengganggu tanaman produksi kita. Ini kesempatan kita untuk mengurangi pemakaian Pestisida Kimia yang berbahaya. Ini saat yang tepat untuk menggiring takdir agar memberikan usia yang lebih panjang dan kualitas hidup yang lebih baik bagi generasi muda.

Ruang itu saya menyebutnya MABES PRATI, Markas Besar Prajurit Nabati. Di sini disiapkan bibit Tanaman Nimba untuk dibagikan cuma-cuma kepada kelompok masyarakat ataupun dijual dengan sangat murah kepada individu-individu. Mabes Prati pun menampung produksi komoditas Nimba masyarakat dan dibeli dengan harga pantas. Mabes Prati juga membuat mesinsederhana dengan teknologi tepat guna untuk mengolah komoditas menjadi produk yang bisa disalurkan langsung kepada masyarakat atau petani, berupa pupuk dan pestisida alami dengan harga murah. Dan kebetulan, Adit dengan senang hati mau berivestasi untuk menyiapkan semuanya.

Wow!

Saya membayangkan, jika ini terjadi, aka nada siklus yang berputar dan terus berkelanjutan secara sehat. Perlahan tapi pasti masyarakat akan mulai menanam karena memberi dampak significant pada kehidupan ekonomi dan sosialnya. Masyarakat juga akan memelihara Pohon Nimba sebagai mana tukang Ojek memandikan sepeda motornya, sebagaimana Seniman Patung merawat pahatnya. Ada tanggung jawab, ada keikhlasan dan ada kebutuhan untuk terus menjaga. Masyarakat akan terus menanam, memelihata, menghijaukan, memperbaiki kualitas lingkungan dan juga mendapat keuntungan. Sehingga pada titik tertentu Prajurit Nabati bisa dikenal sebagai situs perlawanan Prajurit Anak-anak Baik Hati.

Ada banyak hal yang masih harus dipikirkan dan ada banyak orang yang akan saya telpon. Namun yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan tulisan ini agar tidak bertele-tele.

Sekian.

Sekolah Daur Ulang


Setiap kali saya berada dalam pengembaraan keliling Pulau Jawa, saat kebosanan mengendarai mobil melanda, saya selalu membayangkan apa yang baru saja dilewati.

Saat itu di wilayah Temanggung, dalam perjalanan dari arah Semarang menuju Jogja. Saya membayangkan apa yang baru saja saya lihat di Semarang. Seperti biasanya, kunjungan ke Semarang selalu menjadi kunjungan yang “melelahkan” mental dan spiritual karena saya selalu menyempatkan diri menjelajahi “lautan barang bekas” yang selalu menuntut energy ekstra keras untuk menjadikannya sesuatu. Dan itu selalu menjadi hantu, menjadi hantu, menjadi hantu dan menjadi hantu yang selalu menghantui setiap perjalanan selepas dari Kota Semarang.

Tentu saja, dihantui oleh barang-barang bekas yang eksotik jauh lebih baik daripada dihantui oleh hantu sungguhan meskipun hantunya juga eksotik. Siapa yang peduli dengan hantu cantik nan eksotik? Tapi saya sungguh peduli dengan barang-barang bekas nan eksotik itu.

Sudah sejak lama saya mengumpulkan dan menikmati eksotika barang-barang bekas yang barangkali pada eranya merupakan sebuah penemuan revolusioner. Sudah sejak lama saya larut dalam belantara barang-barang bekas di seantero kota dan pelosok-pelosok Jawa. Sudah sejak lama saya berburu dan memangsa barang-barang bekas di Kudus, Blora, Bojonegoro, hingga Situbondo. Sudah lama saya menjadi Arsitek “Pemulung” yang membangun mimpi dari dasar kubangan barang-barang sisa.

Sudah lama saya asik sendiri, jalan sendiri dan benar-benar sendiri sehingga kadang merindukan seseorang untuk berbagi. Sudah lama saya ingin mengajak semua orang untuk mengerti dan membagi apa yang saya lakukan adalah sebuah realitas yang sama sekali bukan mimpi. Namun baru kali ini saya memikirkan yang satu ini : Sekolah Daur Ulang.

Sekolah yang akan membuat saya tidak merasa sendiri memikirkan apa yang ada di Semarang, Blora ataupun Situbondo. Sekolah yang akan memberikan kesempatan pada generasi muda untuk belajar dan mengetahui mengapa semua harus didaur ulang. Sekolah yang memberikan tantangan bagi insan-insan kreatif untuk terus berpikir. Dan sekolah yang akan menjadi ladang pencaharian baru bagi sejumlah orang yang gemar bekerja keras.

Sejenak saya berhenti berpikir. Mengambil langkah untuk menuliskan pesan-pesan yang berteriak-teriak di dalam pikiran dan jadilah tulisan ini. Dan sekarang saya akan berpikir bagaimana cara merealisasikannya.

Namun sebelumnya saya butuh waktu, dan secangkir kopi.


Senin, 23 Februari 2009

Atau Bayar Saja Saya Dengan Pohon


Pengalaman saya pasti dialami oleh sebagian dari kita yang pernah mengenyam pendidikan arsitektur. Seorang teman atau saudara datang minta dibuatkan design rumah atau kantornya. Awalnya pasti bermula dari basa-basi, tapi selanjutnya kegamangan-kegamangan pun terjadi.

Bagaimanapun juga membuat komitmen professional dengan teman atau saudara tak pernah menjadi persoalan yang mudah. Batasan-batasan sosial, kultural dan batasan professionalnya sendiri terlampau besar. Berapa kita menentukan fee? Bagaimana memberlakukan penalty? Dimana dan bagaimana kita presentasi? Apa saja klausul yang akan kita sepakati? Dan sejumlah kerikuhan-kerikuhan lain yang sebenarnya bagi arsitek tak terlalu kita pikirkan, tapi sering mendatangkan sejumlah kecanggungan justru di pihak “klien”.

Sebagai arsitek yang tidak lagi menyandarkan hidup sebagai arsitek professional, saya masih sering mengalami situasi seperti ini. Tapi beberapa bulan terakhir saya menemukan sebuah solusi yang mungkin akan saya bakukan untuk terus dipakai hingga akhir hayat nanti.

Solusi penemuan saya itu adalah, saya tidak mau lagi dibayar dengan sejumlah uang. Akan tetapi karena sejumlah proses yang saya lakukan memerlukan sejumlah “uang bensin” maka para “klien” saya haruskan membayar dengan sejumlah pohon. Iya, sejumlah pohon. “Klien” yang “mempekerjakan” saya akan saya “paksa” untuk menanam pohon.

Saya pun mensyaratkan pohon tertentu seperti pohon asam, pohon leci, kelengkeng, sawo, beringin, cempaka, jati dan pohon-pohon berumur panjang lainnya untuk ditanam di halaman rumah, di kebun atau di tempat lainnya, termasuk di tempat umum. Setelahnya, tak lupa akan saya “edukasi” para “klien” tersebut supaya terus menanam dan memelihara pohon dan merayakan hari kelahiran putra putri dan keluarga kecilnya dengan menanam pohon.

Karena saya tidak lagi arsitek professional, maka uang bukan segalanya bagi saya. Uang akan habis dalam durasi yang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Sedangkan pohon akan selalu tumbuh dan memberi arti dalam setiap senti pertumbuhannya tak hanya bagi pohon tapi juga bagi kita manusia.

Jadi fair kan? Saya dibayar dengan “pantas”, tidak ada kegamangan dan sedikit memberi perlambatan bagi penghancuran bumi yang kita cintai ini.

Ada yang mau bergabung? Mari kita buat Komunitas ARSITEK PENANAM POHON INDONESIA.

Rabu, 05 November 2008

Malaikat-malaikat Penolongku

Bagi sebagian orang barangkali uang dua puluh ribu rupiah hanya cukup untuk me-loundry baju. Engkau boleh mengecamku, engkau boleh mencapku apa saja, tapi kadang itulah jumlah yang bisa kuberikan dalam satu hari kepada orang yang bekerja untukku. Aku tahu itu tidak adil, tapi apa yang bisa kulakukan?

Aku datang ke sebuah system dimana keadaan memang seperti itu. Sekali lagi engkau boleh menyebutku kompeni atau apa saja, tapi aku benar-benar bukan Robinhood yang bisa memberikan kejutan buat mereka. Kadang aku berikan sesuatu yang kuanggap itu adalah jerih payah mereka, tetap saja itu tidak seberapa dan aku tahu itu semua tidak adil. Apa yang harus aku lakukan?

Aku bisa saja pergi dan tak pernah datang lagi, tapi aku tahu itu tidak akan membuat semua lebih bahagia. Aku bisa saja berhenti dan hanya datang untuk sekedar minum kopi, tapi aku tahu itu semua hanya akan membuat kita sama-sama rindu untuk melakukan sesuatu seperti dulu.

Di benakku, mereka bukanlah orang-orang yang bekerja untukku, melainkan malaikat-malaikatku. Aku tahu, aku akan tetap bisa seperti ini dengan ada atau tidak ada mereka, dan aku pun tahu, aku tak akan pernah mengalami perasaan ini jika tak tak pernah bertemu dengan mereka. Perasaan dimana mereka semua adalah bagian yang tak terpisahkan dariku. Perasaan yang membuat aku tak akan pernah melupakan apa yang telah mereka berikan padaku.

Kadang aku berhayal, mengapa aku tidak terlahir di keluarga kaya raya sehingga aku bisa berikan saja apa yang mereka butuhkan. Tapi jika aku kaya raya apa aku sempat mengenal dan memikirkan mereka? Atau jadikan saja aku Robinhood beneran yang bisa mengalihkan sebagian kepunyaan orang kaya buat mereka, bagaimana pun caranya. Tapi apakah itu semua menjamin akan keadaan yang lebih indah dari apa yang terjadi sekarang? Aku melihat mereka bercengkrama dan selalu punya waktu bergembira. Aku merasakan kebahagian seperti apa yang aku rasakan.

Itu sebabnya saat ini aku tidak terlalu memikirkan mereka, tapi aku sedang memikirkan apa yang bisa kulakukan buat anak-anak dan cucu-cucu mereka, yang tak lain adalah anak-anak dan cucu-cucu bangsa ini. Sejujurnya, inilah “proyek” terbesar buatku sekarang. Aku harap aku bisa memuaskan “klien”-ku yang tak lain dan tak bukan adalah malaikat-malaikatku sekarang ini.

Selasa, 04 November 2008

Universitas Pengrajin Indonesia

Tanpa terasa, sudah lima tahun aku dihidupi oleh para pengrajin. Belum terlalu lama, tapi aku merasa sudah mengenal dan bersama mereka selama puluhan tahun. Aku tahu semua masalah yang menghantam dari raut wajah mereka. Aku tahu kesulitannya dari bahasa tubuh mereka. Aku bahkan tahu apa yang mereka inginkan dari desah nafasnya.

Sebagian pengerajin hidup pas-pasan. Meskipun piramida sebuah usaha yang berputar selalu menempatkan satu atau beberapa orang berada di puncak. Memang tidak adil jika kita menilai kuantitas kehidupan hanya dari satu sudut saja, tapi tetap saja terasa tidak adil manakala kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kombinasi sebuah keterampilan tingkat tinggi dan kerja keras yang begitu spartan hanya cukup untuk melangsungkan hidup satu setengah hari.

Kali ini aku tidak ingin berlarut dengan segala kendala karena aku sedang memikirkan hal yang jauh lebih besar. Aku tidak tahu ini akan dapat merubah nasib pengrajin secara keseluruhan atau hanya akan menjebak mereka dalam eksklusifitas belaka. Aku sedang memikirkan untuk membuat sebuah universitas. Universitas Pengrajin Indonesia.

Tentu saja apa yang aku bayangkan tidak sama dengan kebanyakan universitas lainnya karena di universitas ini tidak memerlukan ijazah sekolah menengah atas. Tak peduli ia seorang lulusan sekolah dasar atau orang yang tidak pernah sekolah sekalipun, semua bisa masuk universitas ini. Pengajarnya pun bukan orang dengan gelar akademis berjibun-jibun, tapi pengrajin itu sendiri. Pengrajin yang sangat terampil di bidangnya. Lama “perkuliahan” sendiri tidak dibatasi, tapi aku merasa 3 atau 6 bulan adalah waktu yang cukup untuk belajar sebuah keterampilan.

Jurusannya tergantung situasi dan kondisi pada saat itu. Setiap mahasiswa dipersilahkan untuk belajar kerajinan pahat batu atau kayu, kerajinan perak atau emas, bikin keramik atau terracotta, menganyam alang-alang atau bambu, membuat lampu atau sekedar album foto dari tanaman kering, membuat kaca atau atau mengolah tembaga. Melukis atau membuat wayang. Memotong batu alam atau memanfaatkan limbah alam, atau ingin belajar semuanya. Aku hanya akan memastikan para mahasiswa mendapat pengajaran dari orang yang memang sangat kompeten di bidangnya dan sesekali mendampingi jika ada kesulitan komunikasi antara guru dengan muridnya. Setelah itu mereka dipersilahkan berwirausaha setelah sebelumnya diberikan bekal ilmu pemasaran dan ilmu mengelola usaha kecil.

Aku banyak melihat pengrajin yang tidak punya posisioning sehingga terpaksa menjual dengan harga murah. Aku banyak melihat pengrajin tidak punya modal yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya sehingga terpaksa menerima pekerjaan yang keuntungannya hanya bisa ditukar dengan upah hariannya. Aku banyak melihat pengrajin yang tak tahu bagaimana memasarkan karyanya. Aku dan gagasanku ingin ada untuk mengantarkan mereka pada taraf dimana kerja keras dan kemampuan mendapat penghargaan selayaknya, meskipun aku belum yakin jika apa yang kupikirkan ini bisa menjadi jawaban atas pengharapan mereka.

Aku pernah memikirkan universitas ini, dengan segala keunikannya menjadi salah satu tempat wisata belajar di Bali, aku membayangkan tempat ini menjadi tujuan pertama setiap anak muda putus sekolah yang punya rencana mengembangkan dirinya. Aku memikirkan banyak hal tentang ini, tapi sejujurnya aku tak bisa lakukan ini seorang diri.