
MENGHUTANKAN BALI UTARA DENGAN POHON NIMBA
Tadinya saya tidak terlampau peduli dengan Pohon Intaran karena setiap kali menemui pohon ini, pastilah saya sedang berada di daerah kering tandus yang tidak saya sukai. Namun siapa yang menyangka pada akhirnya saya memutuskan tinggal di Desa Bengkala yang kering tandus dan penuh Pohon Intaran?
Konflik kepentingan saya dengan Pohon Intaran terjadi sekitar tahun 2009, saat membangun Rumah Daur Ulang untuk Jill Matheson, seorang teman dari Melbourne. Saat itu, site di Pantai Lovina yang tidak terlampau besar juga ditumbuhi beberapa Pohon Intaran yang sudah cukup besar. Nah, “konflik” terjadi saat rumah knock down yang saya buat harus menempati ruang tempat tumbuhnya Pohon Intaran dan sebuah Pohon Kelapa di Belakang. Siapa yang harus mengalah?
Dulu, secara personal saya tidak mencintai pohon itu meskipun rasa sayang selalu ada untuk tumbuhan apapun. Dan saat harus memilih siapa yang harus dikorbankan, Pohon Intaran atau Pohon Kelapa, saya lebih memilih mengorbankan Pak Muji, Kepala Tukang saya. Akhirnya Pohon Kelapa tetap berdiri tegak di area kamar mandi, menembus lantai 2 hingga menembus atapnya, sedangkan pohon Intaran juga tetap tegak dengan beberapa dahan yang dipangkas. Ia berdiri di teras yang menghadap ke pantai dan menembus atap kanopinya. Sementara Pak Muji saya lihat menggerutu karena pekerjaannya bertambah banyak. “Anteng tho, Lik. Everything will gonna be Okay”.
Singkat cerita, Pohon Intaran (Azadirachta indica) atau banyak disebut Pohon Nimba alias Pohon Mimba atau bahasa londonya Neem Tree tidak benar-benar membuat saya penasaran hingga saya membuat status di Facebook yang dikomentari seorang teman bernama Ani Yulinda yang memaparkan secara singkat betapa Pohon Intaran itu banyak sekali kegunaannya.
Aha!
Ini seakan menjadi jawaban dari pertanyaan beberapa tahun yang lalu ketika saya punya mimpi untuk menghijaukan beberapa daerah di Bali Utara yang kering tandus dan tak terurus.
Nimba!
Saya langsung browsing saat itu juga, mengumpulkan data selengkap-lengkapnya tentang manfaat Pohon Nimba, dan menginstruksikan kepada tukang-tukang di rumah untuk memindahkan bayi-bayi Nimba yang bertebaran di sekitar pekarangan rumah di bawah induk-induknya yang untung saja tidak ada yang ditebang saat membangun rumah beberapa waktu lalu. Hasil browsing beberapa menit sungguh mengagetkan, betapa Pohon Nimba seperti Pohon Kelapa yang semua bagiannya bisa dimanfaatkan.
Saya sangat bergairah dan senang, meskipun saat itu juga pikiran saya melompat pada beberapa peristiwa yang saya lihat beberapa bulan terakhir dalam perjalanan dari Desa Tamblang menuju Kota Singaraja. Banyak sekali batang-batang Nimba yang baru saja ditebang. Kasihan. Padahal, jika kita mengetahui lebih awal kita akan bisa melakukan sedikit usaha untuk mengurangi penebangan pohon-pohon itu karena jika masyarakat tahu manfaat sebenarnya, saya pikir tak seorang pun yang akan memutuskan untuk menebang Pohon Nimba karena sekali lagi, semua bagian Nimba bisa dimanfaatkan.
Secara singkat, Daun Nimba bagus untuk pupuk organik dan bahan dasar kosmetik. Tangkainya banyak digunakan untuk menggosok gigi. Batangnya jangan ditanya, bisa untuk kusen, furniture dan ukiran. Kandungan zat aktif di dalamnya juga bermanfaat luar biasa. Namun yang paling “mengganggu” dan membuat saya tidak bisa tidur adalah : Bijinya bisa digunakan untuk Pestisida Alami.
Oh my God. Inikah jawaban dari investigasi Buah Anggur di Desa Banjar yang saya lakukan beberapa bulan yang lalu? Inikah jawaban dari pertanyaan yang mengganggu saya selama bertahun-tahun atas meroketnya bisnis Tengkulak Mangga di desa saya beberapa tahun terakhir?
Kabupaten Buleleng, sebagai daerah penghasil buah-buahan terbesar di Bali telah terjebak dalam ketergantungan pestisida kimia yang akut tanpa ada usaha kongkrit untuk menghentikan ketergantungan itu. Pohon buah-buahan dipaksa menelan “candu” yang membuat pohon-pohon mampu menghasilkan sebanyak-banyaknya untuk para tengkulak buah-buahan yang telah mengijon tanah-tanah rakyat. Sampai kapan ini semua akan terjadi karena faktanya, hasil panen meningkat dan petani serta tengkulak mendapat keuntungan yang lebih besar. Siapa yang harus bertanggung jawab atas perusakan ekosistem dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat?
MENANAM POHON MEMBUAT HUTAN MEMBEBASKAN BUAH-BUAHAN DARI LINGKARAN SETAN PESTISIDA KIMIA YANG MEMABUKKAN
Sebenarnya ini ide yang sangat mengganggu, jika saya teruskan tulisan ini, saya tidak akan pernah berhenti. Namun jika tidak menuliskannya, saya akan sakit jiwa dibuatnya. Tentu saja itu bukan pilihan yang sulit karena faktanya saya terus menulis dan memikirkan apa yang harus dilakukan.
Percaya atau tidak, tiba-tiba telepon bordering dan seseorang di ujung sana di akhir pembicaraan menawarkan meminjamnya tanahnya untuk menanam bibit Pohon Nimba.
Baiklah!
Saya langsung memikirkan skema kerja sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data.
2. Membuat Bibit
a. Mengumpulkan Bibit di bawah pohon induknya
b. Memesan Biji Nimba ke Situbondo
c. Menargetkan 1000 Pohon Nimba di akhir bulan Agustus 2011
3. Men-training Petani Pembibit
4. Menyediakan Lahan
5. Membagi-bagikan Bibit Pohon Nimba kepada Masyarakat yang benar-benar serius untuk menanam
6. Cukup.
Salah atau benar apa yang saya pikirkan tidak menjadi masalah. Kita akan lihat apa yang akan terjadi nanti dan kita evaluasi.
Saya berpikir realistis, tidak akan ada orang yang mau menanam jika tidak memberikan dampak ekonomi atau dampak sosial atau dampak spiritual atau ketiga-tiganya kepada masyarakat. Selama ini, Pohon Nimba selama ini tidak memiliki dampak yang significant pada kehidupan masyarakat, oleh karena itu saya ingin langsung memulai menggabungkan dampak ekonomi dan dampak sosial sekaligus. Caranya?
Sampai disini saya berhenti menulis.
Namun tak berhenti berpikir. Saya telpon Aditya Aryo Andhana, seorang sahabat yang saya tahu tidak akan mengiris-iris ide yang saya sampaikan dengan kritik yang terlampau tajam. Saya hanya perlu bercerita kepada teman yang saya tahu dia akan terstimulasi dan tergoda dengan ide yang saya sampaikan. Saya ceritakan kepadanya tentang PRAJURIT NABATI.
Prajurit Nabati adalah sebuah konsep perlawanan terhadap hama tanaman dengan menggunakan Pestisida Alami. Tak hanya konsep, Prajurit Nabati juga merupakan Ruang dan Tempat (Space and Place) di mana dari sini dipersiapkan segala Amunisi untuk membasmi musuh-musuh yang mengganggu tanaman produksi kita. Ini kesempatan kita untuk mengurangi pemakaian Pestisida Kimia yang berbahaya. Ini saat yang tepat untuk menggiring takdir agar memberikan usia yang lebih panjang dan kualitas hidup yang lebih baik bagi generasi muda.
Ruang itu saya menyebutnya MABES PRATI, Markas Besar Prajurit Nabati. Di sini disiapkan bibit Tanaman Nimba untuk dibagikan cuma-cuma kepada kelompok masyarakat ataupun dijual dengan sangat murah kepada individu-individu. Mabes Prati pun menampung produksi komoditas Nimba masyarakat dan dibeli dengan harga pantas. Mabes Prati juga membuat mesinsederhana dengan teknologi tepat guna untuk mengolah komoditas menjadi produk yang bisa disalurkan langsung kepada masyarakat atau petani, berupa pupuk dan pestisida alami dengan harga murah. Dan kebetulan, Adit dengan senang hati mau berivestasi untuk menyiapkan semuanya.
Wow!
Saya membayangkan, jika ini terjadi, aka nada siklus yang berputar dan terus berkelanjutan secara sehat. Perlahan tapi pasti masyarakat akan mulai menanam karena memberi dampak significant pada kehidupan ekonomi dan sosialnya. Masyarakat juga akan memelihara Pohon Nimba sebagai mana tukang Ojek memandikan sepeda motornya, sebagaimana Seniman Patung merawat pahatnya. Ada tanggung jawab, ada keikhlasan dan ada kebutuhan untuk terus menjaga. Masyarakat akan terus menanam, memelihata, menghijaukan, memperbaiki kualitas lingkungan dan juga mendapat keuntungan. Sehingga pada titik tertentu Prajurit Nabati bisa dikenal sebagai situs perlawanan Prajurit Anak-anak Baik Hati.
Ada banyak hal yang masih harus dipikirkan dan ada banyak orang yang akan saya telpon. Namun yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan tulisan ini agar tidak bertele-tele.
Sekian.



