
Pengalaman saya pasti dialami oleh sebagian dari kita yang pernah mengenyam pendidikan arsitektur. Seorang teman atau saudara datang minta dibuatkan design rumah atau kantornya. Awalnya pasti bermula dari basa-basi, tapi selanjutnya kegamangan-kegamangan pun terjadi.
Bagaimanapun juga membuat komitmen professional dengan teman atau saudara tak pernah menjadi persoalan yang mudah. Batasan-batasan sosial, kultural dan batasan professionalnya sendiri terlampau besar. Berapa kita menentukan fee? Bagaimana memberlakukan penalty? Dimana dan bagaimana kita presentasi? Apa saja klausul yang akan kita sepakati? Dan sejumlah kerikuhan-kerikuhan lain yang sebenarnya bagi arsitek tak terlalu kita pikirkan, tapi sering mendatangkan sejumlah kecanggungan justru di pihak “klien”.
Sebagai arsitek yang tidak lagi menyandarkan hidup sebagai arsitek professional, saya masih sering mengalami situasi seperti ini. Tapi beberapa bulan terakhir saya menemukan sebuah solusi yang mungkin akan saya bakukan untuk terus dipakai hingga akhir hayat nanti.
Solusi penemuan saya itu adalah, saya tidak mau lagi dibayar dengan sejumlah uang. Akan tetapi karena sejumlah proses yang saya lakukan memerlukan sejumlah “uang bensin” maka para “klien” saya haruskan membayar dengan sejumlah pohon. Iya, sejumlah pohon. “Klien” yang “mempekerjakan” saya akan saya “paksa” untuk menanam pohon.
Saya pun mensyaratkan pohon tertentu seperti pohon asam, pohon leci, kelengkeng, sawo, beringin, cempaka, jati dan pohon-pohon berumur panjang lainnya untuk ditanam di halaman rumah, di kebun atau di tempat lainnya, termasuk di tempat umum. Setelahnya, tak lupa akan saya “edukasi” para “klien” tersebut supaya terus menanam dan memelihara pohon dan merayakan hari kelahiran putra putri dan keluarga kecilnya dengan menanam pohon.
Karena saya tidak lagi arsitek professional, maka uang bukan segalanya bagi saya. Uang akan habis dalam durasi yang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Sedangkan pohon akan selalu tumbuh dan memberi arti dalam setiap senti pertumbuhannya tak hanya bagi pohon tapi juga bagi kita manusia.
Jadi fair kan? Saya dibayar dengan “pantas”, tidak ada kegamangan dan sedikit memberi perlambatan bagi penghancuran bumi yang kita cintai ini.
Ada yang mau bergabung? Mari kita buat Komunitas ARSITEK PENANAM POHON INDONESIA.
Bagaimanapun juga membuat komitmen professional dengan teman atau saudara tak pernah menjadi persoalan yang mudah. Batasan-batasan sosial, kultural dan batasan professionalnya sendiri terlampau besar. Berapa kita menentukan fee? Bagaimana memberlakukan penalty? Dimana dan bagaimana kita presentasi? Apa saja klausul yang akan kita sepakati? Dan sejumlah kerikuhan-kerikuhan lain yang sebenarnya bagi arsitek tak terlalu kita pikirkan, tapi sering mendatangkan sejumlah kecanggungan justru di pihak “klien”.
Sebagai arsitek yang tidak lagi menyandarkan hidup sebagai arsitek professional, saya masih sering mengalami situasi seperti ini. Tapi beberapa bulan terakhir saya menemukan sebuah solusi yang mungkin akan saya bakukan untuk terus dipakai hingga akhir hayat nanti.
Solusi penemuan saya itu adalah, saya tidak mau lagi dibayar dengan sejumlah uang. Akan tetapi karena sejumlah proses yang saya lakukan memerlukan sejumlah “uang bensin” maka para “klien” saya haruskan membayar dengan sejumlah pohon. Iya, sejumlah pohon. “Klien” yang “mempekerjakan” saya akan saya “paksa” untuk menanam pohon.
Saya pun mensyaratkan pohon tertentu seperti pohon asam, pohon leci, kelengkeng, sawo, beringin, cempaka, jati dan pohon-pohon berumur panjang lainnya untuk ditanam di halaman rumah, di kebun atau di tempat lainnya, termasuk di tempat umum. Setelahnya, tak lupa akan saya “edukasi” para “klien” tersebut supaya terus menanam dan memelihara pohon dan merayakan hari kelahiran putra putri dan keluarga kecilnya dengan menanam pohon.
Karena saya tidak lagi arsitek professional, maka uang bukan segalanya bagi saya. Uang akan habis dalam durasi yang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Sedangkan pohon akan selalu tumbuh dan memberi arti dalam setiap senti pertumbuhannya tak hanya bagi pohon tapi juga bagi kita manusia.
Jadi fair kan? Saya dibayar dengan “pantas”, tidak ada kegamangan dan sedikit memberi perlambatan bagi penghancuran bumi yang kita cintai ini.
Ada yang mau bergabung? Mari kita buat Komunitas ARSITEK PENANAM POHON INDONESIA.
