Rabu, 05 November 2008

Malaikat-malaikat Penolongku

Bagi sebagian orang barangkali uang dua puluh ribu rupiah hanya cukup untuk me-loundry baju. Engkau boleh mengecamku, engkau boleh mencapku apa saja, tapi kadang itulah jumlah yang bisa kuberikan dalam satu hari kepada orang yang bekerja untukku. Aku tahu itu tidak adil, tapi apa yang bisa kulakukan?

Aku datang ke sebuah system dimana keadaan memang seperti itu. Sekali lagi engkau boleh menyebutku kompeni atau apa saja, tapi aku benar-benar bukan Robinhood yang bisa memberikan kejutan buat mereka. Kadang aku berikan sesuatu yang kuanggap itu adalah jerih payah mereka, tetap saja itu tidak seberapa dan aku tahu itu semua tidak adil. Apa yang harus aku lakukan?

Aku bisa saja pergi dan tak pernah datang lagi, tapi aku tahu itu tidak akan membuat semua lebih bahagia. Aku bisa saja berhenti dan hanya datang untuk sekedar minum kopi, tapi aku tahu itu semua hanya akan membuat kita sama-sama rindu untuk melakukan sesuatu seperti dulu.

Di benakku, mereka bukanlah orang-orang yang bekerja untukku, melainkan malaikat-malaikatku. Aku tahu, aku akan tetap bisa seperti ini dengan ada atau tidak ada mereka, dan aku pun tahu, aku tak akan pernah mengalami perasaan ini jika tak tak pernah bertemu dengan mereka. Perasaan dimana mereka semua adalah bagian yang tak terpisahkan dariku. Perasaan yang membuat aku tak akan pernah melupakan apa yang telah mereka berikan padaku.

Kadang aku berhayal, mengapa aku tidak terlahir di keluarga kaya raya sehingga aku bisa berikan saja apa yang mereka butuhkan. Tapi jika aku kaya raya apa aku sempat mengenal dan memikirkan mereka? Atau jadikan saja aku Robinhood beneran yang bisa mengalihkan sebagian kepunyaan orang kaya buat mereka, bagaimana pun caranya. Tapi apakah itu semua menjamin akan keadaan yang lebih indah dari apa yang terjadi sekarang? Aku melihat mereka bercengkrama dan selalu punya waktu bergembira. Aku merasakan kebahagian seperti apa yang aku rasakan.

Itu sebabnya saat ini aku tidak terlalu memikirkan mereka, tapi aku sedang memikirkan apa yang bisa kulakukan buat anak-anak dan cucu-cucu mereka, yang tak lain adalah anak-anak dan cucu-cucu bangsa ini. Sejujurnya, inilah “proyek” terbesar buatku sekarang. Aku harap aku bisa memuaskan “klien”-ku yang tak lain dan tak bukan adalah malaikat-malaikatku sekarang ini.