Tanpa terasa, sudah lima tahun aku dihidupi oleh para pengrajin. Belum terlalu lama, tapi aku merasa sudah mengenal dan bersama mereka selama puluhan tahun. Aku tahu semua masalah yang menghantam dari raut wajah mereka. Aku tahu kesulitannya dari bahasa tubuh mereka. Aku bahkan tahu apa yang mereka inginkan dari desah nafasnya.
Sebagian pengerajin hidup pas-pasan. Meskipun piramida sebuah usaha yang berputar selalu menempatkan satu atau beberapa orang berada di puncak. Memang tidak adil jika kita menilai kuantitas kehidupan hanya dari satu sudut saja, tapi tetap saja terasa tidak adil manakala kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kombinasi sebuah keterampilan tingkat tinggi dan kerja keras yang begitu spartan hanya cukup untuk melangsungkan hidup satu setengah hari.
Kali ini aku tidak ingin berlarut dengan segala kendala karena aku sedang memikirkan hal yang jauh lebih besar. Aku tidak tahu ini akan dapat merubah nasib pengrajin secara keseluruhan atau hanya akan menjebak mereka dalam eksklusifitas belaka. Aku sedang memikirkan untuk membuat sebuah universitas. Universitas Pengrajin Indonesia.
Tentu saja apa yang aku bayangkan tidak sama dengan kebanyakan universitas lainnya karena di universitas ini tidak memerlukan ijazah sekolah menengah atas. Tak peduli ia seorang lulusan sekolah dasar atau orang yang tidak pernah sekolah sekalipun, semua bisa masuk universitas ini. Pengajarnya pun bukan orang dengan gelar akademis berjibun-jibun, tapi pengrajin itu sendiri. Pengrajin yang sangat terampil di bidangnya. Lama “perkuliahan” sendiri tidak dibatasi, tapi aku merasa 3 atau 6 bulan adalah waktu yang cukup untuk belajar sebuah keterampilan.
Jurusannya tergantung situasi dan kondisi pada saat itu. Setiap mahasiswa dipersilahkan untuk belajar kerajinan pahat batu atau kayu, kerajinan perak atau emas, bikin keramik atau terracotta, menganyam alang-alang atau bambu, membuat lampu atau sekedar album foto dari tanaman kering, membuat kaca atau atau mengolah tembaga. Melukis atau membuat wayang. Memotong batu alam atau memanfaatkan limbah alam, atau ingin belajar semuanya. Aku hanya akan memastikan para mahasiswa mendapat pengajaran dari orang yang memang sangat kompeten di bidangnya dan sesekali mendampingi jika ada kesulitan komunikasi antara guru dengan muridnya. Setelah itu mereka dipersilahkan berwirausaha setelah sebelumnya diberikan bekal ilmu pemasaran dan ilmu mengelola usaha kecil.
Aku banyak melihat pengrajin yang tidak punya posisioning sehingga terpaksa menjual dengan harga murah. Aku banyak melihat pengrajin tidak punya modal yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya sehingga terpaksa menerima pekerjaan yang keuntungannya hanya bisa ditukar dengan upah hariannya. Aku banyak melihat pengrajin yang tak tahu bagaimana memasarkan karyanya. Aku dan gagasanku ingin ada untuk mengantarkan mereka pada taraf dimana kerja keras dan kemampuan mendapat penghargaan selayaknya, meskipun aku belum yakin jika apa yang kupikirkan ini bisa menjadi jawaban atas pengharapan mereka.
Aku pernah memikirkan universitas ini, dengan segala keunikannya menjadi salah satu tempat wisata belajar di Bali, aku membayangkan tempat ini menjadi tujuan pertama setiap anak muda putus sekolah yang punya rencana mengembangkan dirinya. Aku memikirkan banyak hal tentang ini, tapi sejujurnya aku tak bisa lakukan ini seorang diri.
Sebagian pengerajin hidup pas-pasan. Meskipun piramida sebuah usaha yang berputar selalu menempatkan satu atau beberapa orang berada di puncak. Memang tidak adil jika kita menilai kuantitas kehidupan hanya dari satu sudut saja, tapi tetap saja terasa tidak adil manakala kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kombinasi sebuah keterampilan tingkat tinggi dan kerja keras yang begitu spartan hanya cukup untuk melangsungkan hidup satu setengah hari.
Kali ini aku tidak ingin berlarut dengan segala kendala karena aku sedang memikirkan hal yang jauh lebih besar. Aku tidak tahu ini akan dapat merubah nasib pengrajin secara keseluruhan atau hanya akan menjebak mereka dalam eksklusifitas belaka. Aku sedang memikirkan untuk membuat sebuah universitas. Universitas Pengrajin Indonesia.
Tentu saja apa yang aku bayangkan tidak sama dengan kebanyakan universitas lainnya karena di universitas ini tidak memerlukan ijazah sekolah menengah atas. Tak peduli ia seorang lulusan sekolah dasar atau orang yang tidak pernah sekolah sekalipun, semua bisa masuk universitas ini. Pengajarnya pun bukan orang dengan gelar akademis berjibun-jibun, tapi pengrajin itu sendiri. Pengrajin yang sangat terampil di bidangnya. Lama “perkuliahan” sendiri tidak dibatasi, tapi aku merasa 3 atau 6 bulan adalah waktu yang cukup untuk belajar sebuah keterampilan.
Jurusannya tergantung situasi dan kondisi pada saat itu. Setiap mahasiswa dipersilahkan untuk belajar kerajinan pahat batu atau kayu, kerajinan perak atau emas, bikin keramik atau terracotta, menganyam alang-alang atau bambu, membuat lampu atau sekedar album foto dari tanaman kering, membuat kaca atau atau mengolah tembaga. Melukis atau membuat wayang. Memotong batu alam atau memanfaatkan limbah alam, atau ingin belajar semuanya. Aku hanya akan memastikan para mahasiswa mendapat pengajaran dari orang yang memang sangat kompeten di bidangnya dan sesekali mendampingi jika ada kesulitan komunikasi antara guru dengan muridnya. Setelah itu mereka dipersilahkan berwirausaha setelah sebelumnya diberikan bekal ilmu pemasaran dan ilmu mengelola usaha kecil.
Aku banyak melihat pengrajin yang tidak punya posisioning sehingga terpaksa menjual dengan harga murah. Aku banyak melihat pengrajin tidak punya modal yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya sehingga terpaksa menerima pekerjaan yang keuntungannya hanya bisa ditukar dengan upah hariannya. Aku banyak melihat pengrajin yang tak tahu bagaimana memasarkan karyanya. Aku dan gagasanku ingin ada untuk mengantarkan mereka pada taraf dimana kerja keras dan kemampuan mendapat penghargaan selayaknya, meskipun aku belum yakin jika apa yang kupikirkan ini bisa menjadi jawaban atas pengharapan mereka.
Aku pernah memikirkan universitas ini, dengan segala keunikannya menjadi salah satu tempat wisata belajar di Bali, aku membayangkan tempat ini menjadi tujuan pertama setiap anak muda putus sekolah yang punya rencana mengembangkan dirinya. Aku memikirkan banyak hal tentang ini, tapi sejujurnya aku tak bisa lakukan ini seorang diri.
